Absurditas: Rugi Dua Kali!

“We Suffer more often in imagination than in reality” – Seneca

Mitologi Sisyphus menginspirasi Albert Camus. Ia menulisnya dalam esai berjudul Le Mythe de Sisyphe (1947). Di situ dia tampilkan filsafat absurditas. Suatu faham bahwa alam semesta tidak rasional. Segala pekerjaan berujung pada kesia-siaan.

Menghadapi absurditas itu, Camus bereaksi. Melalui Sisyphus, ia anggap absurditas bukan sesuatu yang sia-sia. Bahkan pekerjaan berulang yang dilakukan yaitu mendorong batu ke puncak bukit dan batu itu menggelinding kembali ke bawah tidak dianggap terkutuk. Tidak ada yang sia-sia dalam pekerjaan apa pun. Betapa pun kadang tidak masuk akal! Kita ikuti saja strategi Sisyphus. Apa strateginya? Ia menikmatinya! Ikhlas menerimanya!

Memang, yang dia sasar bukan hasilnya. Bukan outputnya. Sisyphus menikmati prosesnya! seperti para perempuan Nusa Tenggara Timur, penenun kain Timor, yang di saat menenun melakukan pekerjaan yang sama dan berulang-ulang. Mereka menikmati dan mencintai pekerjaan itu. Mereka menemukan makna hidup dalam tenunannya. Mereka mengerjakannya dengan gembira!

Sisyphus berhasil menemukan hal menyenangkan dalam pekerjaannya. Seperti permainan sepakbola. Sebenarnya, ini permainan yang membosankan. Yang dilakukan hanya mengejar, merebut, lalu menendangnya. Itu saja! Itu pun dalam lapangan terbatas. Apa indahnya?

Tetapi, para pemain menikmatinya. Penonton juga! Ada keindahan invincible yang membuat semua bahagia. Sisyphus menikmati pekerjaannya. Dia menemukan keindahan dan kenikmatan. Ini membuatnya bahagia. Dewa Zeus yang menghukum Sisyphus salah perhitungan. Dia kalah lagi! Telak!

Mitos Sisyphus memberikan pesan penting. Kadang kita mengalami persoalan dan masalah yang kita tidak bisa hindari. Seorang teman baik saya sudah berupaya hidup sehat. Tidur cukup, menggunakan masker dengan baik, menyantap makanan yang bergizi, tetapi tetap terpapar Covid-19. Penyakit ini memang anarkis. Menyerang siapa pun. Tidak peduli apa pun jabatan dan profesi anda. Datangnya pun tidak diduga. Meski disiplin hidup sudah diterapkan tetap saja virus ini bisa menyentuhnya.

Baca juga  Kesebelasan Tuhan vs Kesebelasan Setan?

WHO sampai mengeluarkan pernyataan bahwa mencuci tangan, jaga jarak, penggunaan masker, dan bahkan vaksin sekali pun bukan jaminan akan terhindar dari virus ini. Bah! Bila teman baik saya menyesali ‘musibah’ ini, dia telah salah merespons! Hidupnya akan hanya diisi dengan keluh kesah, plus, sumpah serapah. Dia rugi dua kali! Emosi terganggu. Imunitas melemah. Penyakit lebih parah!

Para ahli ilmu kedokteran sudah mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 ini sudah jadi sindemi. Penyakit ini telah merangsang bangkitnya penyakit-penyakit lain yang sudah ada dalam tubuh kita. Banyak korban Covid-19 yang penyakitnya makin kronis gara-gara penyakit-penyakit lain bangkit dan bersinergi. Moga hal ini dijauhkan dari diri kita! Janganlah! Kita harus lebih kuat.

Oleh karena itu, jangan gelisah dan terus-menerus mengeluh. Kita harus belajar menerimanya, bahkan mencintai dan menikmati situasi yang ada. Susah memang! Tetapi kita harus tetap cool dalam segala keadaan. Bersabar dalam segala situasi! Lalu, berpikir apa aspek positif yang harus aku kerjakan. Now!

Jadi ingat peristiwa saat Yesus menghardik murid-muridNya. Perahu mereka diterjang badai. Para murid panik. Mereka ketakutan. Berteriak-teriak tidak keruan. Mengeluh seperti orang kesurupan. Kehilangan kontrol diri. Padahal kepanikan tidak menolong apa pun. Tetapi ekspresi mereka tanda bahwa iman mereka kualitas minyak oplosan. Sudah campuran. Tak murni lagi! Yesus yang lagi enak tidur langsung dibangunkan. Padahal mungkin lagi mimpi enak!

Kanjeng Yesus pasti kaget. Dia langsung bangkit. Di hadapanNya murid-muridNya pucat pasi, ketakutan tidak karuan! Lalu, Yesus menghardik keras ke arah topan, sekaligus membentak murid-muridNya.

Saat topan mereda, Yesus melihat murid-muridNya. Saya pastikan Yesus menggeleng dan menggaruk-garukan kepalaNya yang tidak gatal, Dia katakan:” Mengapa kamu takut? Mengapa kamu tidak percaya…?” Ada di dekatKu pun kamu ketakutan. Absurd! Tak masuk akal. Mentalitas looser!

Baca juga  Bencana dan Kerapuhan Kita

Pertanyaan Yesus untuk kita semua: mengapa kamu tidak percaya…? Pesan cerita ini sederhana. Kita butuh kemampuan mengontrol persoalan dan masalah. Ini benar! Tetapi dalam banyak situasi, yang lebih butuhkan adalah mengontrol diri sendiri! Tetap tenang dan adem di dalam segala situasi. Ombak dan gelombang yang di dalam diri kita sering jauh lebih besar daripada yang terjadi di luar kita.

Redakan ketakutan dan kegelisahan. Bila gagal mengontrol diri, kita rugi dua kali!

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Shoah & Ruakh

Orang Yahudi menolak penyebutan 'holocaust' dalam peristiwa pembantaian 6 juta Yahudi oleh Nazi Jerman. Mengapa? Istilah Holocaust dari kata Yunani;…

Intelektual: Tradisional & Organik?

Saat PIKI menyelenggarakan kongresnya, saya teringat pada pemikiran Gramsci tentang kaum intelektual. Dia menyingkap adanya persoalan besar yang dialami oleh…

Saat Bom Meledak

Saat mendengar berita ada bom meledak di gereja Katolik Makasar, seharusnya kita mulai bertanya: apa akar dari aksi kekerasan dan…

Kasus Rasisme di US?

Meningkatnya persoalan rasisme di US sangat memprihatinkan kita semua. Persoalan ini menuntut kita untuk melakukan antisipasi secepat mungkin sebelum persoalan…