Berdiam Diri, Akibat Sama-sama Sibuk Pelayanan

Ada moto bagus: Ora et Labora! Artinya, bekerja dan berdoa. Keduanya satu kesatuan. Tidak boleh dipisahkan. Anda harus bekerja atau belajar sekeras-kerasnya, tapi jangan pernah lupa menyediakan waktu berdiam sejenak. Untuk apa? Tinggal pilih saja. Anda bisa bermeditasi atau berefleksi. Bisa membaca buku untuk menambah ilmu, atau berdoa. Menjumpai Allah. Anda ngobrol dan bercengkrama denganNya.

Sebaliknya, jangan terus-menerus berdiam diri, berfleksi atau berdoa, lalu berharap Tuhan mengerjakan semua persoalan Anda sementara Anda sendiri enak-enakan berpangku tangan. Ora et Labora: Ora dan Labora harus seimbang, saling mengisi. Doakan yang kita kerjakan, kerjakan yang didoakan!

Kita hidup dalam dunia yang serba sibuk. Banyak orang bangun pagi saat subuh, lalu bergegas pergi sebelum terkena macet yang menyebalkan itu. Kita bekerja hingga larut malam. Kalau pun bisa pulang lebih cepat, aktifitas-aktifitas lain yang sama pentingnya sudah ngantri.

Kita manusia multi dimensi. Punya multi komitmen. Sibuk di sini, repot di sana. Putar otak untuk pekerjaan ini, banting tulang untuk pelayanan di sana. Berkejaran dengan waktu. Lari ke sana, ngebut ke sini. Rencana dan aktifitas berpuluh-puluh. Pikiran terbagi-bagi. Mau tidur pun pusing: mikirin sana, mikirin sini. Semuanya Penting. Tak ada waktu istirahat.

Sumpek! Tidak punya kesempatan sekedar berdiam diri, membaca sesuatu, berefleksi, atau berdoa dan mengalami perjumpaan dengan Allah. Tak ada kesempatan dibisik dan dijamah Tuhan. Kita sibuk, terlalu sibuk hingga hati kita kering. Spiritualitas kita gersang. Kita seperti Marta. Ia cekatan melayani tetapi mengalami kedangkalan spiritualitas.

Hatinya kosong! Rohaninya rapuh. Pelayanannya pun menjadi penuh kemarahan. Hatinya berjejal kejengkelan, sesak dengan iri hati. Pengap dengan kebencian. Sumpek! Marta melayani tanpa hati! Tanpa sukacita! Tanpa senyum. Tanpa kerelaan. Segalanya dilakukan dalam keterpaksaan. Akibatnya ia mengeluh. Ngedumel! Sebel! Kesel!

Sama seperti Marta, Maria pun perempuan cekatan. Ia manusia sibuk. Punya multi komitmen. Banyak tanggungjawab! Tetapi, Maria tahu, di tengah kusumpekan kerja, ia perlu waktu berdiam diri. Momen berdiam diri bukanlah membuang waktu sia-sia. Berdiam diri, lalu membaca sesuatu, berdoa atau bermeditasi adalah seperti orang yang perlu melangkah mundur dua atau tiga langkah supaya mampu melompat lebih jauh ke depan.

Berdiam diri terutama saat berdoa adalah momen berefleksi. Berjumpa dengan Allah! Memperdalam relasi! Mendengarnya! Spiritualitas perlu diperkuat. Intelektualitasnya harus ditingkatkan. Emosinya harus dimanage. Komitmennya disegarkan. Tanpa itu segala aktifitas menjadi rutinitas tanpa makna. Tanpa kegembiraan. Maria pun bersimpuh di kaki Yesus.

Memang sangat baik menyibukkan diri melayani sesama, tetapi harus ada saat dimana kita duduk berdiam diri. Hanya diam! Tenang! Hanya mendengarkan! Lalu, membangun keintiman dengan Yesus. Memasuki kedalaman relasi denganNya. Yesus menjamah hati Maria. Menyegarkan jiwanya. Mengokohkan spiritualitasnya.

Pilihan Maria tepat. Sesibuk apa pun, Maria selalu sediakan waktu berjumpa Yesus! Itulah sumber kekuatan spiritualitasnya! Itulah kunci penting yang membuatnya mampu melayani dengan sukacita, dalam kegembiraan. Dalam spiritualitas yang kokoh, kerja dan kesibukan menjadi sebuah panggilan. Bekerja menjadi arena kegembiraan! Maria memilih yang terpenting dalam hidupnya.

 

Salam,
Albertu Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Bablas! Negara Urusi Selangkangan Rakyat!

Ada paradoks kehidupan yang sering tidak kita perhitungkan. Paradoks itu adalah ini. Orang ingin menegakkan yang baik, tetapi dengan cara…

Ancaman Terbesar Kita

Ancaman kaum pendukung khilafah memang menakutkan. Tetapi tulisan ini mengungkapkan bahwa ada ancaman terbesar yang harusnya lebih kita waspadai. Apa…

Type Mana Gereja Kita?

Relasi gereja dan politisi yang terjadi belakangan ini mendorong saya untuk mengamati model atau type pimpinan (gereja). Nah, dalam hubungannya…

Mengenang Pdt. Dr. SAE Nababan

Pada 8 Mei 2021, Allah memanggil pulang seorang hambaNya yaitu Pdt. Dr. SAE. Nababan. Kepergiannya adalah kehilangan yang luar biasa…