Ancaman Terbesar Kita

Ancaman kaum pendukung khilafah memang menakutkan. Tetapi tulisan ini mengungkapkan bahwa ada ancaman terbesar yang harusnya lebih kita waspadai. Apa itu?

Institut Soritua Nababan (ISN) telah diluncurkan pada 24 Mei 2022. Saya harap lembaga ini akan menggali dan mengembangkan pemikiran Nababan dan lembaga ini menjadi wadah pengembangan kader intelektual Kristen. Tetapi, doa dan harapan terbesar saya adalah moga lembaga kajian ini tidak mati muda.

Selama ini gereja-gereja dan institusi oikoumenis telah mengabaikan satu hal yang sangat penting yaitu pengembangan intelektualitas. Efeknya, kita mengalami krisis intelektualitas akut. Gereja-gereja tidak menciptakan kultur belajar. Diskusi intelektualitas sering berhenti dengan melabel sesat dan liberal kepada mereka yang berbeda.

Lembaga-lembaga kajian gereja mengalami kemandekan. Akademi Leimena bubar. Institute TB Simatupang atau Institute Eka Darmaputera yang ingin didirikan tak kunjung muncul. Kita jarang diskusi ilmiah. Kalau ada, diskusinya kering kerontang. Lebih banyak lontaran emosional daripada argumen rasional. Kita tidak siap beda pendapat. Tak siap berdemokrasi.

Lalu, kita lebih banyak bicara tentang ancaman dan ketakutan terhadap ancaman luar. Ya, ancaman khilafah, berdirinya negara Islam, terorisme, gereja ditutup, dan sebagainya. Kita jadi makhluk penakut dan paranoid. Seperti masa Orde Baru, kita pun bergantung pada ‘kekuasaan’ para politisi.

Hal sebaliknya terjadi di kalangan umat Islam. Berbagai kelompok diskusi tumbuh dan berkembang. Maarif Institute, Wahid Institute, Nurcholis Madjid Society, Kelompok diskusi Ciputat, kelompok Denny JA, group Saiful Mujani, dan seterusnya. Setiap diskusi dihadiri ratusan kaum muda yang kritis dan cerdas.

Perguruan tinggi dan Universitas Muhammadiyah dan NU makin moncer. Kultur belajar berkembang. Islam menjadi gerakan intelektualitas. Kaum muda Islam produktif menulis opini di berbagai media. Mereka menghasilkan banyak buku bermutu dan berkiprah di manapun.

Buya Syafii Maarif, yang hari ini berulang tahun, pernah berpesan begini: ‘ancaman terbesar bangsa kita adalah kebodohan kita sendiri.’ Buya tepat. Ancaman terbesar bagi bangsa dan juga bagi agama-agama bukan dari luar seperti dari ideologi khilafah, terorisme dan kelompok keras mana pun. Itu paranoid yang dibesar-besarkan yang membuat kita menderita penyakit rabun ayam. Sesungguhnya ancaman terbesar justru ada pada kita yaitu kebodohan kita sendiri.

Selama intelektualitas tidak diasah, kita tidak akan berdaya dan makin irrelevant. Selama gereja dan lembaga oikoumenis masih mengabaikan kultur belajar jangan mimpi ingin berpartisipasi membangun peradaban bangsa. Leimena, Amir Syarifuddin, dan TB Simatupang adalah para intelektual yang mampu berkiprah. Mereka tidak kejar posisi dan jabatan. Sebaliknya, mereka dicari dan dikejar karena mereka cerdas dan berintegritas.

Dalam dunia digital seperti saat ini, peran intelektualitas makin penting. Mereka yang gagal memahami ini akan termarjinalkan. Oleh karena itu gereja dan lembaga oikoumenis perlu bertransformasi. Bukan hanya fokus pada pelayanan (karitatif). Harus ada komitmen penuh untuk menjadikan gereja sebagai gerakan intelektual. Kembangkan kultur belajar. Saatnya kita membebaskan diri dari paranoid terhadap ancaman dari luar kita. Saatnya kita menyadari bahwa ancaman terbesar gereja dan bsngsa kita ada pada diri kita: kedunguan kita!

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Bablas! Negara Urusi Selangkangan Rakyat!

Ada paradoks kehidupan yang sering tidak kita perhitungkan. Paradoks itu adalah ini. Orang ingin menegakkan yang baik, tetapi dengan cara…

Type Mana Gereja Kita?

Relasi gereja dan politisi yang terjadi belakangan ini mendorong saya untuk mengamati model atau type pimpinan (gereja). Nah, dalam hubungannya…

Mengenang Pdt. Dr. SAE Nababan

Pada 8 Mei 2021, Allah memanggil pulang seorang hambaNya yaitu Pdt. Dr. SAE. Nababan. Kepergiannya adalah kehilangan yang luar biasa…

Selamatkan Bumi, Selamatkan Manusia!

Franciscus dari Asisi menggambarkan bumi dengan sangat menarik. “Bumi itu,” katanya, “seperti sebuah kitab suci.” Franciscus percaya bahwa Allah berbicara…