Benarkah Itu Kehendak Allah?

“Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan akal budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna” (Roma 12:1-2)

Sebagai anak-anak Tuhan kita dipanggil untuk menaati kehendak Allah, terutama melalui kata dan laku kita. Nah…., muncul pertanyaan penting, ‘bagaimana kita memahami kehendak Allah?’ Pertanyaan ini penting. Mengapa? Karena banyak orang mengklaim bahwa apa yang dia lakukan adalah seturut dengan kehendak Allah. Kita bisa mendengar klaimnya.

Celakanya, kita tidak tahu motif tindakannya; bisa benar, bisa juga bohong! Nah……, tulisan kali ini diinspirasi oleh dua teolog besar Yahudi. Mereka adalah Abraham Joshua Heschel, seorang teolog kharismatis, dan Mordecai M. Kaplan, seorang teolog reformis Yahudi.

Kedua teolog ini prihatin, karena banyak tindakan yang diklaim ‘kehendak Allah’ justru menciptakan penindasan dan pembunuhan terhadap sesama. Para teroris melakukan kekerasan dengan klaim yang dilakukannya itu adalah kehendak Allah. Ada klaim ‘kehendak Allah’, tetapi hasilnya ketidakadilan, diskriminasi, dan segregasi terhadap sesama.

Penindasan terhadap orang kulit hitam di Afrika adalah ideologi politik ‘kehendak Allah.’ Contoh lain; ada pemimpin agama yang mengklaim ‘kehendak Allah’ agar umat memberi persembahan kepadanya. Dia katakan bahwa Allah akan membalas si penyumbang dengan kekayaan yang berlimpah. Dia sedang memperkaya diri sendiri. Umat memberi sambil berharap imbalan, tetapi mereka tertipu!

Memang, klaim spiritual atas nama ‘kehendak Allah’ berpotensi digunakan dan disalah-gunakan siapa pun juga, untuk tujuan apa pun, baik positif maupun negatif. Pantas saja Paulus tidak hanya bicara soal iman. Dia juga mengingatkan perlunya pembaruan akal budi.

Artinya, jangan merespons secara emosional. Gunakan juga akal budi. Segala sesuatu harus dikaji dengan cermat. Sahabat saya, Ade Armando selalu mengingatkan, ‘ayo gunakan akal sehat.’ Segala fenomena dan bahkan semua klaim spiritual harus dikritisi. Kita harus bisa membedakan manakah kehendak Allah, yaitu apa yang baik, dan yang berkenan kepada Allah serta yang sempurna.

Bagaimana Mengetahuinya?
Paling sedikit ada tiga aspek yang harus diperhatikan agar memahami kehendak Allah. Aspek pertama dan kedua dikemukakan oleh Heschel. Dia katakan bahwa Allah tidak memperlakukan manusia seperti mikrofon. Manusia bukan benda pasif yang hanya menerima dan melakukan apa pun yang dikehendakiNya.

Sebaliknya, menurut Heschel, Allah justru memperhitungkan kemanusiaan manusia; Allah memperhitungkan kekuatan dan kelemahannya; Allah menghargai karakternya, temperamen, dan minatnya. Mereka yang dipanggil dan diutus itu punya ego dan kehendak yang besar.

Oleh karena itu, mereka yang diutus untuk menjalani ‘kehendak Allah’ sering harus bergumul keras antara melakukan kehendak Allah, atau mematuhi ego serta kehendak pribadi. Musa bergumul. Yeremia mengutuki hari kelahirannya, Yunus kabur karena menolak melakukan kehendakNya, Petrus menyangkal.

Ketika menggumuli mana yang menjadi kehendak Allah, kita akan terus bergumul antara ketaatan kepada Allah dan keinginan memberontak. Di sinilah, menurut Heschel, kita membutuhkan komitmen dan kesetiaan kepada Allah.

Aspek kedua, menurut Heschel, Allah mempercayakan pengutusanNya tidak selalu kepada para nabi, rasul, atau pendeta yang bekerja dan melayani di rumah ibadah. Allah bebas memilih siapa pun. Bisa saja dia seniman atau sastrawan seperti pemazmur. Bisa juga prajurit militer seperti Samson dan Saul.

Allah juga memilih orang yang berkiprah dalam dunia politik, seperti Daud, Daniel, dan Yusuf. Ada yang dipanggil sebagai aktifis sosial yang berjuang membebaskan rakyat yang tertindas, seperti Musa, atau diminta sebagai pengeritik pemerintahan, seperti Natan dan Yesaya.

Artinya, kehendak Allah itu selalu berada di dalam konteks persoalan di mana kita berada dan bergumul. Kehendak Allah itu terjadi dimana- mana, termasuk di kampus, di dunia politik, di dunia olahraga, dan entertainment, atau di dunia bisnis.

Artinya, di semua tempat menjadi arena kehendak Allah. Di semua tempat itu Allah berkarya melalui siapa pun untuk menyatakan kehendakNya. Artinya, panggilan itu ada di mana-mana dan kepada siapa saja, termasuk kepada anda.

Aspek ketiga ini adalah ide Mordecai Kaplan. Menurut Kaplan, dunia modern menuntut adanya indikator atau ukuran untuk prestasi apa pun. Nah……, kehendak Allah itu punya indikator keberhasilan yang bisa dilihat dan dirasakan.

Bagi Kaplan, melakukan kehendak Allah itu pasti mendatangkan shalom bagi semua. Shalom adalah situasi di mana cinta, keadilan, dan perdamaian dapat dirasakan oleh semua orang. Kebenaran Allah itu membebaskan kita, tetapi juga membahagiakan semua.

Artinya, kehendak Allah tidak akan menciptakan konflik, permusuhan, dan ketidakadilan bagi siapa pun.

Jadi, klaim ‘kehendak Allah’ yang hanya menguntungkan diri sendiri atau menciptakan konflik dan permusuhan, pastilah bukan berasal dari Allah, Sang Maha Kasih itu.

Mendekati perhelatan Pemilu ini, potensi penggunaan ‘kehendak Allah’ dalam dunia politik sangat mungkin terjadi. Mari kita gunakan akal sehat!

Salam,
Albertus Patty

 

 

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Demi Persembahan, Pendeta Jualan ‘Kesembuhan Ilahi’

Seorang rohaniawan menceritakan pengalaman rohaninya dengan suara keras, tegas, dan berapi-api. Dia mengatakan bahwa semalam Yesus menjumpainya, lalu mengobrol dengannya.…

Marak KDRT, Gereja Sikapnya Harus Gimana?

Ada tiga peristiwa yang kini ramai diperbincangkan di media massa dan media sosial. Ketiga peristiwa itu adalah tragedi sepakbola di…

Merespons Kyai Mamang Haerudin: Mentalitas Transaksional dan Spiritualitas Hedonistik!

Saya gembira karena tulisan saya "Reza Aslan dan Teologi Kemakmuran" direspon sahabat saya, Kyai Mamang Haerudin. Ia seorang intelektual, plus…