Demi Persembahan, Pendeta Jualan ‘Kesembuhan Ilahi’

Seorang rohaniawan menceritakan pengalaman rohaninya dengan suara keras, tegas, dan berapi-api. Dia mengatakan bahwa semalam Yesus menjumpainya, lalu mengobrol dengannya. Tentu saja ini pengalaman ‘Wouw’; cerita yang luar biasa, mencengangkan bagi pendengarnya. Mereka pasti berdecak kagum. Tidak diceritakan apa saja topik percakapannya.

Tetapi, secara to the point, sang rohaniawan menyampaikan bahwa Yesus menjanjikan kesehatan dan kelimpahan kekayaan bagi siapa pun yang memberi dana persembahan.

Yang menarik, katanya, Yesus memberikan “time frame”; persembahan itu harus ditransfer sebelum jam dua siang. Setelah ‘khotbah’, banyak yang tertarik, umat segera mentransfer uang persembahan. Maklum, janjinya kesehatan dan kekayaan yang berlimpah. Siapa yang tidak mau?

Bisa dipastikan, motif mereka pemberi persembahan bukan karena cinta pada Yesus, bukan juga sebagai ucapan syukur atas cinta Yesus kepada mereka.

Motif utama mereka adalah memperoleh kesembuhan dan kekayaan berlimpah; itu pun secara instan. Mereka seperti pemancing yang mengumpan cacing agar dapat ikan kakap atau, bila perlu, ikan paus.

Memang, mujizat penyembuhan dari sakit-penyakit dan kekayaan melimpah adalah janji ‘sorgawi’ yang selalu dijajakan rohaniawan teologi sukses. Semua bisa didapat secara instan.

Janji seperti ini dialami dan dipercayai oleh sebuah keluarga miskin keturunan Pakistan. Mereka tinggal di Amerika Serikat. TV HBO dalam acara ‘Under Cover’ pernah mengangkat cerita ini.

HBO menugaskan ‘intelejen’-nya menjadi pengikut rohaniawan teologi sukses. Sebagai orang dalam, sang ‘intelejen’ meliput segala percakapan dan aktifitas rohaniawan teologi sukses dan tim kerjanya. Dia tahu siapa saja korban-korbannya dan untuk apa saja dana-dana umat itu difoya-foyakan.

Anak laki-laki keluarga keturunan Pakistan itu menderita sakit parah, tidak mampu diobati. Mereka tidak putus asa. Mereka membawanya ke rohaniawan yang konon mampu melakukan mujizat kesembuhan.

Saat ibadah penyembuhan, mereka wajib ‘membayar’ beberapa ribu dollar. Demi anak, mereka memenuhinya. Tetapi setelah ibadah, anak laki-laki mereka tidak kunjung sembuh.

Panitia ibadah menyarankan agar sang anak diajak lagi dalam ibadah lain dan duduk di bangku paling depan. Maksudnya agar langsung dilayani sang rohaniawan. Tetapi, ada syarat. Apa? Harus bayar ribuan dollar.

Demi anak terkasih, keluarga ini berjuang mendapatkan ribuan dollar. Setelah terkumpul, mereka membawa anak laki-lakinya dalam ibadah penyembuhan. Mereka diberi tempat duduk di deretan paling depan.

Dalam ibadah itu, sang rohaniawan menghampiri anak laki-laki itu, dan mendoakan. Sayangnya, tidak terjadi kesembuhan. Pihak panitia punya argumen. Penyebab sang anak tidak sembuh bukan karena rohaniawannya kurang ‘tokcer’; juga bukan salah Tuhan.

Penyebabnya karena orang tuanya berdosa. Keluarga Pakistan ini pulang dengan sedih. Anak mereka tidak sembuh, ditambah kehilangan banyak uang. Kini ada info, mereka adalah orang berdosa yang tidak berkenan di hadapan Allah.

Mutilasi Agama  
Praktek-praktek ibadah dengan janji kesembuhan dan kelimpahan kekayaan yang didapat secara instan seperti dua kasus di atas semakin marak terjadi.

Menurut David W. Jones dan Russell S. Woodbridge dalam bukunya Health, Wealth, and Happiness, praktek semacam itu telah memutilasi agama! Agama diubah, dari kekuatan untuk menjalin relasi yang penuh cinta dengan Allah, menjadi instrumen untuk melayani kepentingan dan nafsu manusia.

Orang yang sakit keras, apalagi sudah menahun, tentu berharap memperoleh kesembuhan. Itu wajar. Mereka mau melakukan apa pun, termasuk membayar berapa pun, demi kesembuhan.

Orang lupa bahwa para rohaniawan yang menjajakan kesembuhan ilahi ini sempat mengalami ‘cuti panjang’ karena pandemi Covid-19. Seolah ‘penyembuhan ilahi’ mereka itu bisa memulihkan semua penyakit, kecuali Covid.

Orang yang malas dan kurang kreatif tetapi bernafsu memperoleh kekayaan berlimpah secara instan pasti sangat tergoda. Mereka tahu bahwa bila rohaniawan itu benar, mereka tidak perlu bekerja keras.

Tidak perlu memikirkan pengelolaan perusahaan yang rumit dan berbelit-belit. Mereka hanya memberi dana persembahan, lalu Allah akan memberi kekayaan yang berlimpah-limpah. Serba mudah dan serba cepat.

Mentalitas kemalasan dan kemanjaan sedang ditanamkan dalam diri umat. Seolah semua persoalan akan Tuhan selesaikan sendiri dengan mujizatnya. Manusia cukup berdoa, tidak perlu melakukan apa pun. Pasif saja!

Para rohaniawan teologi sukses menjajakan kemudahan untuk memperoleh kesehatan dan kekayaan. Tidak ada berita penebusan dosa. Tidak ada panggilan pertobatan. Tidak ada cerita Yesus yang tersalib. Tidak ada pesan untuk memperhatikan sesama yang miskin dan yang tertindas. Semuanya fokus hanya untuk kepentingan diri sendiri, untuk kesehatan dan kekayaan berlimpah.

Memang, mereka menggunakan ayat Alkitab, tetapi  ayat-ayat itu disalahgunakan untuk menarik dana umat. Agama telah dimutilasi. Ayat-ayat suci dipotong-potong, disimpangkan dari tujuan utamanya. Sungguh miris!

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Benarkah Itu Kehendak Allah?

“Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan akal budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa…

Marak KDRT, Gereja Sikapnya Harus Gimana?

Ada tiga peristiwa yang kini ramai diperbincangkan di media massa dan media sosial. Ketiga peristiwa itu adalah tragedi sepakbola di…

Merespons Kyai Mamang Haerudin: Mentalitas Transaksional dan Spiritualitas Hedonistik!

Saya gembira karena tulisan saya "Reza Aslan dan Teologi Kemakmuran" direspon sahabat saya, Kyai Mamang Haerudin. Ia seorang intelektual, plus…