Era Baru ‘Perdamaian’ Timur Tengah!

Setelah Mesir dan Yordania, Uni Emirat Arab dan Bahrain menjadi dua negara Arab yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Saya yakin, tidak lama lagi Arab Saudi pun pasti membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Hanya menunggu momentum yang tepat! Bukan rahasia lagi, Arab Saudi dan Israel sudah lama menjalin kerjasama, terutama dalam urusan pertahanan.

Kali ini, Arab Saudi semakin menunjukkan sikap positifnya terhadap Israel. Arab Saudi membuka lintasan udaranya untuk dilewati pesawat Israel. Penerbangan pertama pesawat Israel melintasi ‘langit’ Arab Saudi dilakukan beberapa hari lalu.

Pesawat kenegaraan Israel yang berisi pejabat Israel terbang melintasi tanah Arab Saudi menuju Uni Emirat Arab. Jarak tempuh yang seharusnya 7 jam dipersingkat menjadi 3 jam 30 menit saja.

Apa arti dari dibukanya hubungan diplomatik Arab-Israel itu? Artinya ini: era baru telah hadir di Timur Tengah. Era baru itu adalah era perdamaian! Kita tahu banyak konflik dan ketegangan di seluruh dunia ini yang merupakan imbas dari konflik Arab-Israel di Timur Tengah. Kini, kita berharap suhu politik dunia lebih ‘adem.’

Tetapi, bagaimana kita menilai fenomena ini? Pada satu sisi, dibukanya hubungan diplomatik negara-negara Arab dengan Israel adalah berita gembira. Kita berharap ketegangan politik puluhan tahun yang menciptakan konflik Arab-Israel akan mereda dan bahkan lenyap sama sekali.

Pada sisi lain, dibuka hubungan diplomatik negara-negara Arab dan Israel menimbulkan kekhawatiran diabaikannya satu agenda maha penting yaitu persoalan bangsa Palestina.

Memang, pemerintah Palestina sendiri menganggap pembukaan relasi diplomatik UEA dan Bahrain itu sebagai pengkhianatan negara-negara Arab terhadap nasib dan penderitaan rakyat Palestina. Bangsa Palestina mulai frustrasi karena khawatir masalah mereka akan terpinggirkan. Termarjinalisasi!

Orang bisa saja mengatakan ada situasi ambigu atau mendua dalam pembukaan relasi diplomatik negara-negara Arab dengan Israel karena mengorbankan nasib rakyat Palestina. Menurut saya, membaiknya relasi persahabatan dan perdamaian negara-negara Arab dan Israel tidak perlu dilihat dari perspektif ambiguitas tadi.

Kita harus bisa melihat pembukaan relasi diplomatik itu dari perspektif lain. Ini adalah momen kesempatan untuk mendialogkan secara terbuka dan akrab masa depan bangsa Palestina.

Kini, perundingan damai Timur Tengah memasuki era baru. Ia tidak lagi terjadi dalam perspektif dikotomi antara kami Vs mereka, Arab Vs Israel, tetapi dalam perspektif persahabatan dan persaudaraan Arab dan Israel, demi kebaikan ‘KITA.’ Kebaikan semua!

Dalam perspektif ke-‘KITA’-an, perundingan perdamaian dilakukan atas dasar saling percaya. Ada trust! Dalam era baru, perundingan dilakukan bukan karena adanya ancaman kekuatan senjata, tetapi karena adanya kekuatan moral bersama.

Kita bisa berharap, perdamaian di Timur Tengah akan menjadi perdamaian total dimana bangsa Israel, bangsa Arab dan rakyat Palestina hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan!

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Taliban: Antara Dahlan Iskan dan Ade Armando

Pada 15 Agustus lalu, Taliban berhasil merebut Kabul, ibu kota Afghanistan. Artinya, Taliban berhasil meraih kekuasaan. Pemerintah Ashraf Gani dukungan…

Sejarah 33 Tahun Penyatuan GKI

Kalau boleh jujur, saya merasa sangat bangga menjadi bagian dari Gereja Kristen Indonesia (GKI). Mengapa? Dengan segala kekurangan dan kelebihannya,…

Saatnya Belajar dari China. Bukan dari AS!

Pada 15 Agutus 2021, pimpinan Taliban mendeklarasikan bahwa mereka sudah berhasil merebut Kabul, ibu kota Afghanistan. Artinya pemerintah Afghanistan dukungan…

Virus Berbahaya itu Manusia!

Tiba-tiba kota Bandung kehabisan oxygen. Berbagai rumah sakit pun mengalaminya. Mereka menjerit tidak berdaya. Kita tidak tahu apa penyebabnya. Bisa…