Hari Pertama MPL PGI Waibakul, Albertus Patty Soroti Daerah Miskin dan Ketidakadilan

Hari pertama Persidangan MPL PGI 2019 di Waibakul, Sumba diwarnai dengan banyak aspek menggembirakan. Panitia, masyarakat dan pejabat daerah yang ramah. Ada tarian tradisional yang bergerak dinamis. Ada teriakan khas Sumba yang menggetarkan. Ada ciuman ujung hidung khas Sumba. Berbagai jenis makanan tradisional yang tersaji terasa nikmat.

Ada spirit persaudaraan masyarakat Sumba yang bersedia menjadikan rumahnya tempat bermalam para peserta. Pimpinan gereja dari berbagai daerah berjumpa dalam semangat keakraban. MPL PGI di Sumba menjadi reuni para sahabat. Apa yang peserta rasakan hanyalah keindahan dan kegembiraan.

Paradoks dari semua keindahan dan kegembiraan itu muncul saat persidangan MPL PGI. Dalam persidangan itu, para peserta diingatkan bahwa kita, gereja-gereja Indonesia, hidup dalam berbagai persoalan dan tantangan gereja, bangsa dan dunia. Gereja hidup di tengah kemiskinan yang tak terperi. Kemiskinan semakin menjadi ancaman yang mengerikan karena kita sedang menghadapi krisis ekonomi global.

Celakanya, daerah-daerah miskin di Indonesia kebanyakan dihuni umat Kristen. Peserta MPL PGI diingatkan pada ketidakadilan yang menghimpit sebagian besar masyarakat, termasuk kaum perempuan Indonesia. Ada 400-an Perda yang mendiskriminasi dan mensubordinasi kaum perempuan. Ada anak-anak menderita stunting akibat kurang gizi. Persoalan Papua yang bukan saja masih terus berlangsung tetapi bahkan dengan situasi yang memburuk.

Sebagai bangsa kita terancam oleh berkembangnya radikalisme yang memecah-belah bangsa, kehancuran ekologi yang mengakibatkan terancamnya kehidupan seluruh makhluk di planet bumi ini. Plus, revolusi industri digital 4.0 yang telah mengubah banyak hal dalam kehidupan ini yang mengharuskan gereja-gereja untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang cerdas dan tangguh.

Masih banyak persoalan lain yang bisa membuat orang frustrasi. Dan memang, akibat frustrasi maka sejak tahun 2015 tingkat bunuh diri di dunia ini, kata Yuval Noah Harari,  lebih tinggi daripada orang yang dibunuh. Seluruh krisis ini mengancam eksistensi gereja, bangsa dan planet bumi ini.

Berbagai ancaman di atas seharusnya menempatkan gereja-gereja kita sebagai persekutuan yang empati, menangis bersama yang menangis. Tetapi pada sisi lain berbagai persoalan dan ancaman itu seharusnya menguatkan kembali kesetiaan kita pada panggilan kristiani yang melampaui nafsu pribadi dan kepentingan primordialis dan sektarian. Kita semua adalah persekutuan gereja yang ikut bertanggungjawab dalam maju atau mundurnya peradaban bangsa dan dunia ini.

Selain itu, tantangan besar yang mengancam gereja, bangsa dan dunia ini seharusnya meluruhkan apatisme dan keengganan kita dalam melibatkan diri dalam pergumulan oikoumenis gereja, bangsa dan dunia ini. Sebaliknya, gereja-gereja kita justru ditantang untuk menginterpretasikan berbagai persoalan tadi dalam perspektif keanekaragaman agama, etnik dan gender.

Satu hal yang menggembirakan dalam MPL PGI hari pertama adalah adanya kerinduan mengimplementasikan gerakan oikoumene in action, Firman sudah menjadi daging. Sudah saatnya bertindak, bukan hanya berteori atau berkhotbah.

 

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Bablas! Negara Urusi Selangkangan Rakyat!

Ada paradoks kehidupan yang sering tidak kita perhitungkan. Paradoks itu adalah ini. Orang ingin menegakkan yang baik, tetapi dengan cara…

Ancaman Terbesar Kita

Ancaman kaum pendukung khilafah memang menakutkan. Tetapi tulisan ini mengungkapkan bahwa ada ancaman terbesar yang harusnya lebih kita waspadai. Apa…

Type Mana Gereja Kita?

Relasi gereja dan politisi yang terjadi belakangan ini mendorong saya untuk mengamati model atau type pimpinan (gereja). Nah, dalam hubungannya…

Mengenang Pdt. Dr. SAE Nababan

Pada 8 Mei 2021, Allah memanggil pulang seorang hambaNya yaitu Pdt. Dr. SAE. Nababan. Kepergiannya adalah kehilangan yang luar biasa…