Holy War alias Perang Suci?

Holy war atau Perang Suci adalah perang atas nama Allah dan agama. Perang Suci yang paling terkenal adalah Perang Salib (Crusade) yang berlangsung dari tahun 1095-1291. Perang ini diinisiasi Eropa oleh Paus Urbanus II.

Tujuannya untuk merebut berbagai tempat suci di Timur Tengah yang dikuasai umat Islam. Tetapi, Armstrong berpendapat sesungguhnya perang yang dilabel suci ini lebih bermotif politik dalam rangka memperluas pengaruh politik kekuasaan Paus.

Meskipun demikian, Perang Salib antara Eropa dan Arab itu telah menjadi semacam ‘historical making events” karena event tadi menimbulkan berbagai ‘events’ konflik dan permusuhan yang berkepanjangan di Timur Tengah. Bahkan, konflik yang ada di Timur Tengah saat ini pun, menurut Armstrong, adalah efek dari ‘perang suci’ di masa lalu.

Meski demikian, peta konflik di Timur Tengah sudah berubah. Konflik internal Islam lebih dominan. Kalau dirunut sejarahnya, motif konflik ini pun lebih disebabkan oleh politik daripada motif agama.

Perang antara Kristen dan Islam bukan satu-satunya ‘perang suci’ karena ada juga ‘perang suci’ yaitu perang atas nama kebenaran agama di internal Kristen yaitu antara Katolik dan Protestan. ‘Perang suci’ yang dimulai tahun 1517 ini berakhir pada abad ke-18.

Meski ini perang antara Katolik Vs Protestan, tetapi motif utamanya bukanlah agama. Perang ini lebih bermotif politik karena beriringan dengan bangkitnya nasionalisme bangsa-bangsa Eropa. Syukurnya konflik internal ini telah selesai dengan cara yang beradab.

Rangkaian ‘perang suci‘ di atas menunjukkan betapa agama sering dijadikan instrumen untuk kepentingan apa pun, termasuk untuk kekuasaan politik dan ekonomi.

Agama hanya menjadi ‘jubah’ untuk menarik simpati dan dukungan umat. Agama ‘ditarik’ sesuka-suka penggunanya.

Baca juga  Pertarungan Peradaban di Balik G30S/PKI

Itulah sebabnya, Encyclopedia of Wars menunjukkan data penting yaitu bahwa dari 1763 konflik dan perang yang pernah terjadi di dunia ini, hanya 123 peperangan atau hanya 6,98% peperangan yang motif utamanya adalah agama. Artinya? Agama bukanlah pemicu utama dalam sebagian besar konflik dan perang di dunia ini.

Memang, agama sering dijadikan instrumen untuk mengabsahkan perang, konflik atau kepentingan apa pun. Umat yang lugu dan penuh cinta dilibatkan dalam konflik dan peperangan demi Allah dan demi agama. Dalam sekejab mereka berubah menjadi ‘robot’ tak berperasaan yang rela menghabisi sesama. Mereka ini simpatisan ‘gratis.’ Tak perlu dibayar! Mereka puas dengan janji sorgawi! Sementara politisi dan pengusaha, pemicu utamanya, tertawa gembira.

Itulah penyebab utama agama selalu ‘dilibatkan’ dalam kontestasi politik, terutama saat Pemilu dan Pilkada. Bisa dipastikan suhu politik akan meningkat jelang Pilkada Desember. Bisa dipastikan juga ketegangan intra dan antar agama pun meninggi.

Instrumentalisasi agama harus dihentikan. Sesungguhnya inilah penistaan agama yang paling jelas! Agama harus dikembalikan pada fitrah utamanya sebagai pembawa rahmat, cinta, keadilan, dan kebahagiaan bagi umat manusia dan dunia.

Maka, penghayatan keagamaan harus mengalami evolusi. Tidak boleh ‘stuck.’ Harus ada redefinisi terhadap banyak hal, terutama redefinisi terhadap siapa atau apa yang sesungguhnya menjadi ‘musuh’ utama kita, umat beragama.

Sesungguhnya, tantangan terbesar dalam hidup ini bukanlah melawan orang yang kita label sebagai musuh, tetapi melawan nafsu dan ego kita sendiri. Kemenangan terbesarmu bukan saat kau buat musuhmu tertunduk menangis dalam ketakutan, tetapi saat kau mampu memenangkan hatinya untuk mencintaimu dan menjadi sahabat dan saudaramu.

Api kebencian dan permusuhan yang kita pendam tidak akan pernah menghancurkan orang yang dengan semena-mena kita label sebagai lawan atau musuh. Sebaliknya, sesungguhnya kebencian itu akan membakar dan menghanguskan diri kita sendiri.

Baca juga  Relasi Kristen-Islam: Menyelesaikan PR Bersama!

Rahmat dan cinta adalah nilai utama agama. Ekspresinya ada dalam kata-kata yang santun dan sikap yang lembut pada sesama. Orang seperti ini lebih ramah ketimbang marah. Di tengah gelombang kebencian di dunia ini, cinta dan kelembutan adalah tanda kedalaman spiritualitas.

Sebaliknya kata-kata kasar, makian, hujatan terhadap siapa pun adalah bukti adanya ‘loss control,’ gagal pengendalian diri. Kedangkalan iman! Lebih dari itu, ujaran kebencian dan kekerasan terhadap sesama adalah bukti bahwa sesungguhnya kita tidak memahami pesan utama agama kita sendiri. Sangat ironis!

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Kisah Kepala Suku Indian

Percakapan dan bahkan perdebatan tentang kawin beda agama dalam laman FB saya sangat ramai. Syukurnya, banyak orang cerdas dan matang…

Era Baru ‘Perdamaian’ Timur Tengah!

Setelah Mesir dan Yordania, Uni Emirat Arab dan Bahrain menjadi dua negara Arab yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Saya…

Pandemi: Efeknya Pada Religiositas dan Moralitas?

Beberapa teman berteriak lantang: ”Sekaranglah saatnya agama mundur. Terbuktilah sudah impotensi agama di hadapan multi krisis akibat pandemi Covid-19. Di…

Persembahan Umat: Cinta dan Tanggung Jawab!

Mother Teresa pernah berkata: “Jangan merasa bangga sudah memberikan uang pada orang miskin. Mereka lebih membutuhkan cintamu, bukan uangmu, maka…