Ilusi: Ketamakan & Kecemasan!

Operasi Tangkap Tangan yang dilakukan KPK atas Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah menyampaikan pesan ganda. Pada satu sisi, kita bersyukur atas kesuksesan KPK menangkap koruptor pengerat kekayaan bangsa. Pada sisi lain, kita bersedih karena di saat masyarakat dan bangsa dirundung krisis berat menyesakkan, elite politik dan birokrat malah kehilangan nurani dan tanggungjawab sosialnya.

Seharusnya, dalam kondisi multi krisis para pemimpin politik tampil sebagai ‘pahlawan.’ Pada bahu mereka rakyat meletakkan kepercayaan dan tanggungjawab sosial untuk menuntun bangsa melalui berbagai lembah kegelapan. Ya, untuk melintasi berbagai krisis berat. Kekuasaan diraih bukan untuk memperkaya diri, tetapi untuk menyejahterakan rakyat dan bangsa.

Apa penyebab korupsi? Sebagian orang beranggapan, penyebab korupsi adalah ketamakan. Stiglitz, peraih nobel ekonomi ada dalam golongan ini. Dia menamakan era ini sebagai era ketamakan. Orang tamak adalah orang yang tidak pernah puas. Selalu ingin berlebih! Ingin menambah kekayaan dan kekuasaannya sampai lupa diri. Korupsi menjadi banal. Nurani lumpuh. Lalu, melanggar batas. Mereka percaya kebahagiaan diraih saat segalanya dikuasai. Mereka hidup dalam ilusi.

Sebagian lagi menganggap penyebab korupsi adalah kecemasan. Orang seperti ini merasa terancam oleh kelangkaan. Takut kekurangan. Mereka juga merasa terancam oleh orang-orang di sekitarnya. Semuanya adalah kompetitor. Satu-satunya cara menghindari ancaman kelangkaan adalah menghalalkan segala cara agar ‘survive.’ Sintas sendirian! Dari sini mereka membangun ilusi bahwa bila kuasa dan harta diraih, lenyaplah ancaman. Aman segalanya. Reinhold Niebuhr, teolog Protestan Amerika Serikat ada di posisi ini.

Bagi Niebuhr, motif tindakan orang atau sekelompok orang bukanlah harapan yang hendak diraih. Motif tindakan seseorang lebih dipicu oleh kecemasannya. Anxiety! Kecemasan pada kelangkaan dan kecemasan terhadap sesamanya. Untuk menutupi kecemasan itulah orang hidup dalam ilusi, lalu melanggar batas. Batas kemanusiaan dan batas moral. Batas apa pun!

Baca juga  Jangan Sampai Perpecahan Gereja Terjadi

Apa yang hendak dikatakan adalah ini. Ternyata ketamakan dan kecemasan sama bahayanya. Keduanya memiliki perbedaan yang sangat tipis. Setipis sutera. Ketika kita gagal mengendalikan keduanya, orang menjadi lupa diri. Responsnya tidak realistis. Lalu orang terjebak ilusi. Ya, ilusi lagi! Semua jadi lepas kendali! lalu, OTT KPK mengubah total kebahagiaan menjadi fatamorgana. Hidup jadi real! Keuntungan berubah menjadi kebuntungan.

Dunia pun runtuh dalam sekejab. Saat koruptor berduka, rakyat gembira. Saat mereka remuk dan porak-poranda, masyarakat tertawa-tawa. Hidup berubah drastis. Dulu pernah dipuji setinggi langit. Sekarang dikutuk seantero negeri.

Memang, ilusi itu sangat membahayakan! Hiduplah dengan realistis. Lakukanlah tiga hal ini: belajar mensyukuri apa yang kita miliki, selalu sadar pada tanggungjawab sosial, serta ingat ini: ada batas yang tidak boleh kita langgar!

Salam,
Albertus Patty

 

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Shoah & Ruakh

Orang Yahudi menolak penyebutan 'holocaust' dalam peristiwa pembantaian 6 juta Yahudi oleh Nazi Jerman. Mengapa? Istilah Holocaust dari kata Yunani;…

Intelektual: Tradisional & Organik?

Saat PIKI menyelenggarakan kongresnya, saya teringat pada pemikiran Gramsci tentang kaum intelektual. Dia menyingkap adanya persoalan besar yang dialami oleh…

Saat Bom Meledak

Saat mendengar berita ada bom meledak di gereja Katolik Makasar, seharusnya kita mulai bertanya: apa akar dari aksi kekerasan dan…

Kasus Rasisme di US?

Meningkatnya persoalan rasisme di US sangat memprihatinkan kita semua. Persoalan ini menuntut kita untuk melakukan antisipasi secepat mungkin sebelum persoalan…