Ketidakadilan dimulai di Tengah Keluarga

Seorang laki-laki marah besar, lalu dengan kasar menampar anak laki-laki kecil berusia lima tahunan. Anak itu menangis sekeras-kerasnya. Dia tak menyangka akan diperlakukan sekeji itu. Saya menegur laki-laki itu atas sikap kasarnya. Sang lelaki terganggu, melotot tajam ke arah saya, lalu ngeloyor pergi entah kemana.

Si anak menangis dalam dekapan ibunya. Saya menghampiri mereka, mengorek keterangan penyebab kemarahan sang lelaki. Ternyata si lelaki adalah ayah anak itu. Ia malu karena sejak kecil anaknya berperilaku seperti perempuan: doyan berdandan, mengenakan pakaian kaum hawa, hobbinya masak-masakan . Ada gejala transgender!

Bagi sang ayah, anaknya berperilaku tidak benar! Ia menolak menerima kenyataan itu, lalu berhasrat menegakkan kebenaran melalui kekerasan. Kebenaran ditegakkan dengan mengorbankan kemanusiaan!

Pilihan seorang perempuan atau seorang laki-laki untuk tidak menikah alias menjadi single sering belum cukup dihormati oleh keluarga dan masyarakat kita. Rentetan pertanyaan “kapan menikah” memberi tekanan yang membuat frustrasi. Bagi yang usil, yang tidak menikah dianggap ‘kurang laku.”

Padahal, mereka memilih menjadi single karena menikmati sedapnya kebebasan. Mereka bisa pergi dan melayani kemana pun dan kapan pun tanpa beban, tanpa perlu minta ijin siapa pun. Pilihan menjadi single harus diterima dan dihormati, dan penerimaan itu harus dimulai di dalam keluarga.

Kebebasan mereka adalah potensi untuk maju dan berkembang. Acara bulan keluarga di gereja pun harus memperhatikan kebutuhan mereka sebagai bagian dari keluarga besar Allah!

Banyak anak gadis mengeluh betapa perhatian orang tua pada anak laki-laki sering berlebihan daripada perhatian dan cinta kepada anak perempuan. Ini konstruksi budaya patriachat yang dilanggengkan!

Akibatnya buruk! Rasa minder anak-anak kita sering disebabkan pengalaman ketidakadilan di tengah keluarga.

Sebaliknya, kemanjaan yang diterima anak laki-laki membuat mereka menjadi generasi yang mudah loyo, tidak tahan banting dan tidak punya fighting spirit dalam menghadapi tantangan masa kini.

Kasih terhadap siapa pun, termasuk di dalam keluarga, dimulai dari kesediaan menerima dan menghargai seseorang apa adanya. Penerimaan dan penghormatan adalah nilai luhur agama yang membuat seluruh potensi cinta dalam diri kita mengucur deras, bebas mengarah pada siapa pun.

 

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Sabam Sirait & Spiritualitas Politiknya

Membicarakan sepak terjang Sabam Sirait dalam dunia politik selalu menarik. Apalagi bila dikaitkan dengan bukunya "Politik itu Suci." Konon, gagasan…

Ketaatan Agama Tanpa Logika

Dengan heran saya selalu bertanya: mengapa para teroris tega menabrakkan pesawat berpenumpang ke gedung WTC? Padahal, konon, para teroris yang…

KDRT

Saya pernah dikecam banyak pihak. Penyebabnya gara-gara saya mendukung niat seorang perempuan yang hendak bercerai dari suaminya. Perempuan ini sudah…

MUI adalah Perekat Bangsa!

Pada hari Senin, 22 November 2021, saya mendapat kehormatan menjadi pembicara dalam Refleksi Akhir Tahun 2021 Lintas Agama yang diselenggarakan…