Merespons Kyai Mamang Haerudin: Mentalitas Transaksional dan Spiritualitas Hedonistik!

Saya gembira karena tulisan saya “Reza Aslan dan Teologi Kemakmuran” direspon sahabat saya, Kyai Mamang Haerudin. Ia seorang intelektual, plus Dai acara Cahaya Hati RCTV yang hebat. Bagi saya ini kejutan besar. Mengapa? Karena tulisan saya membidik Teologi Kemakmuran yang ‘happening’ di kalangan Kristen.

Tulisan itu tidak menyinggung agama lainnya, termasuk Islam. Kalau pun Islam disebut dalam tulisan itu karena kritik terhadap Teologi kemakmuran itu datang dari Reza Aslan. Ia teolog Islam yang sedang populer di Amerika Serikat. Bagi saya kritikannya adalah anugerah Tuhan bagi umat Kristen. Saat umat Kristen sendiri bungkam, Allah menggunakan mulut umat lain! Ini demonstrasi universalitas Allah! Siapa yang bisa membatasiNya?

Sebagai teolog Kristen, saya menerima kritik pedas Reza Aslan. Saya tidak akan menuduhnya telah melakukan penistaan agama. Tuduhan penistaan agama, bagi saya, selalu muncul dari kaum ‘sumbu pendek’ yang tidak memiliki tradisi berdiskusi dan berdialog. Tuduhan penistaan agama berpotensi memasung intelektualitas. Tak ada satu pun bangsa yang maju saat intelektualitas dipasung.

Tuduhan penistaan agama juga menutup ruang kritik terhadap agama. Hal ini membahayakan agama itu sendiri. Agama jadi ‘stuck.’ Stagnan! Mengalami kejumudan! Tak ada pembaharuan dari dalam. Jadi, kritikan Aslan bagus. Sangat dibutuhkan! Memang, teologi kemakmuran adalah penyimpangan dari teologi Kristen. Saya akan jabarkan alasannya nanti!

Atas kritiknya itu, konon, Reza Aslan mendapatkan tanggapan pedas dari kaum Kristen konservatif. Ini sangat disesalkan! Mereka lupa bahwa Aslan adalah Master Teologi (Kristen) dari Harvard Divinity School. Ini seminary hebat. Bukan abal-abal! Aslan tidak asal bicara. Ia menguasai apa yang disampaikannya. Dan kritikan Aslan adalah kritikan membangun!

Memang, agama manapun membutuhkan kritik-kritik seperti ini. Dari mana pun! Dari siapa pun! Kritikan yang rasional terhadap agama memicu pembaharuan terus-menerus sehingga agama tetap relevan. Kritik adalah tamu agung agar esensi agama tetap terjaga. Kritik juga penting untuk menjaga ‘ghirah’ keagamaan umat.

Dalam responnya terhadap tulisan saya, Kyai Mamang Haerudin, penulis yang produktif, menyampaikan beberapa poin penting. Pertama, bahwa dalam Islam pun ada Teologi Kemakmuran. Kedua, kita harus melihat Teologi Kemakmuran secara positif tetapi kritis. Kyai mamang menulis “Memang, ada yang perlu dikritisi. Tetapi, ada juga aspek positif yang perlu kita pelajari. Kalau teologi kemakmuran itu maksudnya menipu umat, jelas dilarang syariat. Tetapi kalau teologi kemakmuran yang dimaksud adalah memotivasi orang untuk bangkit, memanajemen dakwah agar semakin inovatif dan modern, saya pikir, ini bagus.”

Baca juga  Ini Kata Albertus Patty Soal Intoleransi

Ketiga, kita harus belajar dari kreatifitas dan inovasi dari teologi kemakmuran ini. Kyai Mamang menulis “Apalagi yang berkaitan dengan syiar dakwah di era digital, termasuk kepekaannya dalam merespon dahaga religiusitas umat.” Keempat, teologi ini menuntun umat untuk mandiri secara finansial. Ia dilakukan dengan ajakan bukan dengan paksaan, apalagi kekerasan.

Respon Kyai Mamang Haerudin ini sangat bagus. Oleh karena itu tidak ada yang perlu saya perdebatkan. Saya malah belajar dua hal. Pertama, saya surprise karena ternyata teologi kemakmuran ada juga di Islam. Apalagi yang dituturkannya adalah pengalaman on the spot-nya terhadap Teologi Kemakmuran versi Islam, atau paling tidak versi Ust. B.

Kedua, Kyai Mamang mengingatkan saya untuk bersikap kritis tetapi positif. Jangan terjebak pada penilaian hitam-putih. Saya setuju! Meski demikian, apa yang diungkit oleh Kyai Mamang Haerudin dalam responnya ini lebih pada aspek yang praktis. Ia tidak menyentuh soal yang esensial. Padahal justru di situ persoalannya.

Persoalan esensial dari teologi kemakmuran versi Kristen inilah yang akan saya elaborasi. Dari sini saya harap kita akan mengerti mengapa Reza Aslan mengeritiknya habis-habisan!

Teologi Kemakmuran versi Kristen diusung oleh Gerakan Karismatik yang merupakan aliran neo-pentakostal. Ia muncul di Amerika Serikat. Mengapa Amerika Serikat? Karena teologi ini sangat pas dengan “The American Dream,” mimpi bangsa Amerika untuk sukses dalam segala hal, terutama finansial. Teologi Kemakmuran ini mengklaim bahwa Allah menginginkan agar orang Kristen kaya dan sukses dalam segala hal, khususnya dalam segi keuangan.

Apakah salah bila orang ingin menjadi kaya, makmur dan sukses? Tentu saja tidak! Malah bagus kalau teologi ini mendorong umat menjadi manusia yang sukses dan makmur sekaligus jujur, mau kerja keras dan berintegritas! Persoalannya tidak begitu!

Baca juga  Ketua PGI: Jangan Cepat Telan Isu Terkait Wamena Tanpa Fakta

Ada beberapa kritik terhadap teologi kemakmuran. Pertama, cara meraih kemakmuran dan kesuksesan. Teologi ini menyatakan Allah PASTI membuka tingkap-tingkap langit sehingga pengikutNya kaya dan sukses, asalkan taat kepadaNya dan memberi persembahan kepada Allah, tentu saja melalui gereja.

Kepastian bahwa umat akan menjadi kaya dan makmur adalah mimpi yang terus-menerus ditebar. Kepastian ini membuat umat rela memberi dan terus memberi. Jadi, tidak butuh paksaan apalagi kekerasan untuk menarik uang dari dompet umat. Cukup taburan ayat-ayat suci yang menjanjikan kenikmatan sorgawi atau hukuman neraka!

Kedua, menyangkut pertanggungjawaban. Seperti Kyai Mamang Haerudin, saya berharap dana persembahan umat akan digunakan secara bertanggungjawab. Persoalannya adalah betapa sulitnya melakukan audit independen terhadap institusi agama mana pun. Salah satu indikator penting dalam implementasi tanggung jawab bukanlah komitmen verbal pemimpin rohani kepada Tuhan. Itu tidak cukup!

Tanggungjawab itu harus nampak dalam kesediaan membiarkan lembaga keagamaannya itu diaudit oleh lembaga keuangan independen. Keuangan institusi agama harus akuntabel dan transparan karena ia mengelola dana publik. Di Indonesia baru sebatas dorongan moral. Belum ada aturan yang mengharuskan lembaga agama melakukan audit independen.

Ada banyak institusi agama yang sadar untuk melakukan audit berkala. Tetapi lebih banyak lagi yang menolaknya. Itulah sebabnya tidak pernah jelas penggunaan dana umat. Institusi agama, plus pengelolanya, banyak yang hartanya trilyunan sehingga timbul konflik besar!

Ketiga, teologi ini menitik beratkan pada kekayaan materi. Orang beribadah bukan karena cinta Tuhan tetapi karena ingin kaya. Orang memberi persembahan bukan karena cintanya pada Allah, tetapi karena ingin meraih kesuksesan.

Ibarat pemancing yang memberi umpan cacing demi mendapatkan kakap. Ini mentalitas transaksional. Kita jadi tahu darimana akar politik transaksional di Indonesia. Ini model spiritualitas yang hedonistik.

Keempat, teologi kemakmuran ini menyatakan bahwa orang yang diberkati Tuhan adalah orang yang kaya dan makmur, sehat dan sukses. Kelihatannya bagus karena teologi seperti ini, mengutip Kyai Mamang Haerudin “mendorong umat untuk mandiri secara finansial.”

Persoalannya, teologi kemakmuran ini sama sekali tidak menyuntikkan etos kreatifitas, kejujuran dan kerja keras. Sebaliknya, orang bisa makmur dan sukses cukup dengan memberikan persembahan kepada Tuhan melalui gereja. Semakin banyak memberi, semakin banyak berkat. Semudah itu!

Baca juga  Sekum GKI: Pdt Albertus Patty Adalah Kader Terbaik GKI

Celakanya, teologi ini seolah menuding mereka yang miskin, yang terpuruk secara sosial-ekonomi disebabkan oleh dosanya atau paling sedikit karena kurang memberi persembahan.

Jadi, teologi kemakmuran ini sangat ramah terhadap orang kaya, tetapi kejam terhadap yang miskin. Ini bukanlah teologi pemberdayaan umat, tetapi teologi pemerdayaan umat. Teologi yang mendiskriminasi kaum miskin!

Kelima, teologi kemakmuran atau teologi sukses di Amerika Serikat diinisiasi oleh pengusaha sukses dan kaya raya. Di Indonesia gejalanya pun sama. Kehadiran para pengusaha dalam dunia spiritual ini menarik. Mereka yang sudah terbiasa bergumul dengan persoalan materi diingatkan pada dunia spiritual, sementara gereja yang banyak bergumul dengan dunia spiritual terseret dalam dunia material yang kapitalistik. Terjadi Kawin Siri! Para pengusaha ini tahu umat butuh dientertain alias dihibur. Umat harus merasa senang dan nyaman.

Ravi Zakharias, penginjil di Amerika Serikat dan Kanada, pernah mengeritik keras Joel Osteen karena khotbah Osteen hanya menghibur. Tidak ada penghakiman. “Teologi tanpa Salib,” katanya. Teologi kemakmuran ini tidak mempertanyakan bagaimana dan dengan cara apa mereka kaya dan sukses. Daya kritis terhadap orang kaya tumpul apalagi bila nilai persembahan yang diberikan sangat besar. Terjadilah simbiosis mutualistis!

Lembaga keagamaan dan para pemuka agama menikmati kucuran persembahan. Para pengusaha yang memberi persembahan merasa mendapatkan pengampunan dosa dan jaminan ‘kapling’ di sorga. Institusi dan pemuka agama menerima money laundering. Para pengusaha menikmati spiritual laundering! Kerjasama indah!

Sebagai penutup, tulisan ini ingin mengingatkan bahwa agama, termasuk kekristenan, bisa digunakan untuk apa pun. ia bisa digunakan untuk membenci atau mencintai sesama. Agama bisa digunakan untuk melayani, bisa juga digunakan untuk melakukan diskriminasi. Bisa digunakan untuk memberi, bisa juga untuk mengeksploitasi.

Seperti yang Kyai Mamang Haerudin katakan, kita semua harus memiliki sikap positif, tetapi jangan lupa untuk kembangkan daya kritis. Karena meski agama pada esensinya baik, tetapi ia bisa dimanipulasi untuk kepentingan apa pun.

Salam,
Albertus Patty

Bagikan