Lebaran Idul Adha dan Relevansinya

Idul Adha adalah perayaan untuk memperingati ketaatan Abraham atau nabi Ibrahim terhadap perintah Allah untuk mempersembahkan anaknya sebagai korban sembelihan bagi Allah. Wacana yang hingga kini sangat menarik dan menjadi perdebatan selama berabad-abad adalah tentang siapa yang sesungguhnya hendak Abraham atau nabi Ibrahim korbankan: Isak atau Ismail?

Cerita-cerita yang lebih tua dari tradisi Yahudi dan Kristen mencatat bahwa yang hendak dijadikan korban sembelihan adalah Isak yang merupakan kakek moyang suku Israel.

Sebaliknya, tradisi keagamaan Islam yang muncul belakangan memberikan keyakinan bagi umatnya bahwa yang hendak dikorbankan adalah Ismail, kakek-moyang suku Arab.

Perbedaan tafsir yang menimbulkan perdebatan besar dan bahkan tajam tentang siapa anak yang hendak dikorbankan kemungkinan besar muncul karena adanya rivalitas yang menghadirkan klaim teologis tentang suku atau bangsa pilihan Allah.

Klaim Israel sebagai umat pilihan Allah mendapatkan counter klaim Arab sebagai umat pilihan Allah. Artinya, klaim-klaim bersifat primordial dalam cerita di atas muncul dari konteks agama suku yang menjadi ciri keagamaan jaman kuno. Agama Yahudi dan Kristen berkaitan dengan suku Israel, sedangkan agama Islam berkaitan dengan suku Arab.

Pada masa kini, ketika ketiga agama Abrahamik: agama Yahudi, Kristen serta Islam, sudah bermetamorfosa dari agama suku menjadi agama trans-nasional dimana umat agama-agama tersebut dipeluk oleh banyak suku dan bangsa, perdebatan tentang siapa yang dikorbankan meski tetap mengasyikan, tetapi sudah kurang relevan.

Apa yang mesti dilakukan adalah interpretasi baru terhadap cerita itu agar relevan bagi kehidupan dan kemaslahatan umat manusia jaman kini.

Salah satu interpretasi yang baik yang pernah dikemukakan adalah bahwa cerita itu berakhir dengan kebahagiaan. Happy ending! Abraham yang taat tidak perlu memberikan anaknya sebagai korban sembelihan bagi Allah.

Tidak ada seorang pun yang dikorbankan: tidak Isak, tidak juga Ismail! Sebagai pengganti, Allah menurunkan seekor domba untuk dikorbankan.

Moral cerita dari interpretasi baru bagi umat beragama mana pun adalah bahwa tidak boleh ada manusia yang dikorbankan atau dibunuh demi atau atas nama Allah! Allah tidak menghendakinya. Allah nyatakan itu melalui cerita Abraham atau nabi Ibrahim yang dilarang mengorbankan anaknya.

Allah sudah memberikan cara lain yang lebih beradab dan manusiawi demi memuliakanNya, yaitu dengan menyembelih domba atau binatang lain untuk dibagikan atau dizakatkan bagi kebaikan dan kemaslahatan sesama manusia.

Selamat merayakan hari raya Idul Adha!

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Bablas! Negara Urusi Selangkangan Rakyat!

Ada paradoks kehidupan yang sering tidak kita perhitungkan. Paradoks itu adalah ini. Orang ingin menegakkan yang baik, tetapi dengan cara…

Ancaman Terbesar Kita

Ancaman kaum pendukung khilafah memang menakutkan. Tetapi tulisan ini mengungkapkan bahwa ada ancaman terbesar yang harusnya lebih kita waspadai. Apa…

Type Mana Gereja Kita?

Relasi gereja dan politisi yang terjadi belakangan ini mendorong saya untuk mengamati model atau type pimpinan (gereja). Nah, dalam hubungannya…

Mengenang Pdt. Dr. SAE Nababan

Pada 8 Mei 2021, Allah memanggil pulang seorang hambaNya yaitu Pdt. Dr. SAE. Nababan. Kepergiannya adalah kehilangan yang luar biasa…