Mengutuk atau Merangkul!

Pagebluk Covid-19 ini sungguh menggebuk kita.  Kita menjadi sadar betapa kita rapuh dalam segala hal: fisik, mental dan spiritual. Tata kehidupan kita pun hancur total. Kita dipaksa ‘mengosongkan diri’ karena semua harus ditata ulang. Ibarat komputer harus restart! Harus ada kesadaran baru. Dan memang sepanjang sejarahnya kita dipaksa, suka atau tidak suka, mengalami evolusi.

Salah satu evolusi yang harus kita miliki adalah evolusi kesadaran. Apa maknanya? Kesadaran ibarat penerang di tengah kegelapan. Ia membuat kita mengerti berbagai perkara yang semula samar. Ia menghubungkan kita dengan kenyataan dan meluruhkan semua ilusi dan desepsi yang tertanam di benak. Kesadaran adalah kunci penemuan diri. Kita menjadi apa yang Sarte namakan etre pour soi, diri yang mengambil jarak terhadap obyek di luarnya.

Cerita Ayub menuturkan evolusi kesadaran saat berhadapan dengan musibah. Ayub, orang terkaya daerah Timur dihajar gelombang musibah. Harta kekayaannya ludes, anak-anaknya binasa, dan terakhir ia terpapar penyakit kronis. Ayub di persimpangan antara iman dan keputusasaan.

Memang dengan gagah Ayub berkata, “Allah yang memberi, Allah yang mengambil, Terpujilah Allah.” Tetapi dalam frustrasi Ayub merintih, lalu mengutuki hari kelahirannya. Ayub, dan istrinya, di persimpangan! Mereka punya free will untuk memilih: tenggelam dalam persoalan atau tetap tegak sebagai manusia bermartabat!

Istri Ayub frustrasi berat! Spiritualitasnya hancur berantakan. Ia marah! Ia jadi makhluk agresif! Ia butuh ‘scape goat,’ apa pun atau siapa pun yang bisa disalahkan guna melampiaskan kekesalannya. Baginya, Allah adalah penyebab segala penderitaan dan kehancuran mereka.

Istri Ayub merasa sia-sia beriman kepada Allah. Allah tidak lagi menguntungkannya. Ia meminta Ayub mengutuki Allah!  Mengutuki Allah pada saat menderita sangat sulit karena orang menderita justru mencari Allah. “Bila Allah kita kutuk, kemana lagi mereka lari?” Hardik JJ Rousseau pada Voltaire.

Teman-teman Ayub mungkin sama frustrasinya. Mereka tidak tega melihat kondisi Ayub yang mengenaskan.  Mereka mencari sumber penderitaan Ayub. Kesimpulan mereka berbeda dengan kesimpulan istri Ayub. Bagi mereka penderitaan Ayub bukanlah kesalahan Allah. Sumber penderitaannya adalah Ayub sendiri.

Ini akibat kejahatan dan dosa-dosanya! Mereka menghakiminya. Menyalahkannya! Dia dituduh tidak berintegritas! Efeknya Allah menghukumnya. Ayub harus bertobat dari segala dosa dan kejahatannya.

Bila tidak, Ayub akan dihantui musibah, lalu mati sia-sia. Teman-teman Ayub memang ‘mabok agama,’ mereka datang bukan untuk merangkul dan menguatkan. Mereka  hadir untuk menghakimi dan merampok satu-satunya harta yang Ayub miliki yaitu integritasnya!

Ayub menolak saran istrinya untuk mengutuki Allah. “Mengapa kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk,” katanya. Ucapan Ayub ini ini pernah dikutip Arthur Ashe, petenis terkenal AS, yang terpapar HIV/AIDS. Ayub juga menentang tudingan teman-temannya bahwa dia sendirilah yang menjadi sumber penderitaannya. Tak ada satu pun yang Ayub persalahkan.

Sebaliknya, Ayub merangkul penderitaannya. Ayub tidak meninggalkan Allah. Imannya tidak luntur. Imannya pada Allah yang membuat Ayub menemukan kesadarannya yaitu identitas dan integritas dirinya, bahkan di saat ia menderita!

 

Salam,
Albertu Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Bablas! Negara Urusi Selangkangan Rakyat!

Ada paradoks kehidupan yang sering tidak kita perhitungkan. Paradoks itu adalah ini. Orang ingin menegakkan yang baik, tetapi dengan cara…

Ancaman Terbesar Kita

Ancaman kaum pendukung khilafah memang menakutkan. Tetapi tulisan ini mengungkapkan bahwa ada ancaman terbesar yang harusnya lebih kita waspadai. Apa…

Type Mana Gereja Kita?

Relasi gereja dan politisi yang terjadi belakangan ini mendorong saya untuk mengamati model atau type pimpinan (gereja). Nah, dalam hubungannya…

Mengenang Pdt. Dr. SAE Nababan

Pada 8 Mei 2021, Allah memanggil pulang seorang hambaNya yaitu Pdt. Dr. SAE. Nababan. Kepergiannya adalah kehilangan yang luar biasa…