Nggak Usah Ngaku Pinter Kalau Nggak Pernah Baca!

Membaca itu asyik lho bahkan bagi mereka yang malas membaca. Lho kok? Silahkan saja bila Anda ingin membuktikannya. Saat lagi susah tertidur, Anda akan gulang-guling tak keruan di atas kasur. Stress! Bila itu terjadi lagi gunakanlah resep menarik ini. Segeralah mengambil buku, lalu mulailah membaca. Amati prosesnya. Hanya dalam hitungan detik, anda menguap berkali-kali!

Bacalah terus, kelopak mata Anda mulai terasa berat. Berat dibuka! Bacalah terus, dalam hitungan menit, Anda pasti tertidur. Bukunya kemana? Tak usah ditanya soal buku. Toh Anda membutuhkannya hanya sebagai pemancing ngantuk. Dan buku yang mujarab itu telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Bila Anda termasuk orang yang sering memperlakukan buku sebagai obat tidur, ingatlah pesan penting yang satu ini: Anda akan menjadi orang yang ‘tertidur’ bahkan ketika Anda sedang bangun. Maksudnya? Anda tidak pernah benar-benar sadar pada realitas di sekitar Anda. Anda tidak akan pernah mengalami rasa takjub pada perubahan yang terjadi. Anda tidak tahu berbagai peristiwa dan kemajuan di sekeliling anda. Anda tidak mengerti masa lalu, tidak paham masa depan. Anda seperti robot. Statis!

Membosankan! Hidup Anda dangkal. Ilmu Anda cetek. Tak tahu apa-apa. Punya minimum wisdom. Tidak bisa diajak dialog. Tak mampu diskusi apa pun karena memang Anda tidak tahu apa-apa. Anda menjadi manusia marjinal. Pinggiran! Tidak bisa memberikan kontribusi apa pun. Tidak bisa menjadi garam dunia. Tak mampu menjadi terang dunia! Bukan karena Anda tidak mau, tetapi karena Anda tidak mampu! Soalnya satu: Anda tidak doyan baca! Anda hidup, tetapi dianggap tidak ada. Anda ada, tetapi tidak berguna apa-apa! Miris!

Pentingnya Membaca!
Betapa pentingnya membaca, terutama membaca buku sehingga C.S. Lewis, pengarang terkenal Amerika Serikat, bilang, ”Membaca itu bagaikan nyala api. Setiap kata yang Anda baca seperti percikan-percikan api yang menerangi hidup Anda dan hidup sesama.” Sebenarnya, lebih baik lagi kalau Anda juga bisa menulis. Pengarang maha terkenal Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, bilang, ”Orang yang paling saya hormati dalam hidup adalah orang yang bisa dan suka menulis.” Bagi Toer, menulis adalah proses mencipta, dari tidak ada menjadi ada.

Penulis bukan sekedar pengarang, ia adalah creator, pencipta. Penulis punya kuasa, bahkan maha kuasa. Ia bisa menghidupkan, bisa membinasakan. Orang yang rajin menulis adalah mereka yang terbiasa bergaul dan bercengkrama dengan kata-kata. Mereka rajin membaca. Mungkin Anda belum bisa menulis, tetapi mulailah membaca. Penulis lain bernama Marlyn Jagger Adam mengatakan, “Aku lebih suka pakai baju lama tetapi punya buku baru daripada aku pakai baju baru, tetapi tanpa buku.”

Membaca itu asyik. Anda bukan sekedar membaca “the Word” tetapi Anda baca “the World.” Anda akan tahu dan memahami dunia hanya ketika Anda menggeluti kata demi kata dalam buku. Dalam membaca, Anda seperti memasuki dunia ini dan mengalami pemandangan sekaligus tantangan, kekhawatiran dan harapan baru.

Wawasan Anda dibuka! Apa yang tadinya Anda anggap sebagai misteri terungkap satu demi satu. Apa yang Anda pikir ‘mujizat’ ternyata menjadi sesuatu yang biasa. Anda memasuki pengalaman “Wooouuuwww….!” Menakjubkan! Jutaan data masuk, tersimpan dan tersistematisir dalam otak Anda. Mau diajak ngomong apa pun Anda bisa. Mau diajak diskusi masalah manapun mampu. Ditanya apa pun bisa jawab. Hebat!

Pengetahuan yang didapat melalui membaca adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Banyak yang takjub pada tokoh-tokoh hebat yang sering tak berlimpah harta. Meski juga tak ada jabatan hebat, mereka ditokohkan karena punya tingkat pengetahuan dan kecerdasan dahsyat. Sangat luas! Dalam! Mereka didengar bukan karena packaging-nya, kulit luarnya, tetapi karena kehebatan dan encernya otak mereka.

Pelajari biografi para pendiri bangsa kita seperti Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, Amir Syarifudin dan Leimena. Mereka ditakuti Belanda bukan karena berotot besi, bertulang baja. Mereka bukan Rambo, bukan Superman atau Samson yang mengalahkan lawan karena jago berperang, mampu berkelahi. Mereka ditakuti karena kecerdasannya.

Soekarno atau Hatta menggetarkan dunia dengan ucapan dan tulisan dengan nalar yang tajam dan pikiran bernas. Kamar tidur orang seperti ini pasti penuh buku. Peribahasa China bilang: “kamar tanpa buku seperti tubuh tanpa jiwa!” Tak ada kehidupan! Mati! Jangan salah sangka! Buku-buku itu bukan supaya mereka bisa tidur. Sebaliknya karena mereka ingin terus membangun kesadaran, punya awareness! Bagi orang-orang seperti ini, rak televisi akan diubah menjadi rak buku. Saat mereka baca, gadget elektronik tak punya kuasa apa pun. Segalanya mati karena mereka ‘tenggelam’ total dalam bacaannya. Manunggaling kawulo kitab!

Yesus pun tokoh yang sangat cerdas. Sejak usia 12 tahun pengetahuannya mencengangkan para imam dan ahli Taurat. Banyak orang kagum pada cara si ‘cilik’ Yesus bertanya dan mendebat para ulama. Memang, dari dulu sampai sekarang, membaca adalah bagian dari bangsa Yahudi. Alkitab ditulis dalam tradisi Yahudi yang menggantikan tradisi pertanian Mesapotamia. Ada lompatan budaya dari lisan menjadi tulisan. Dari mendengar menjadi membaca! Ilmu dicari sendiri, diuji dan dikritisi melalui membaca. Bukan diindoktrinasi!

Jadi, kegembiraan membaca ditanamkan sejak anak-anak. Yesus pasti pembaca yang baik. Bangsa Yahudi pembaca yang hebat. Pantas saja mereka sangat cerdas. Tidak heran lebih dari setengah penerima hadiah Nobel adalah bangsa Yahudi. Hebatnya, reformasi Protestantisme diawali dengan penemuan mesin cetak Guttenberg. Akibatnya, Alkitab bisa dicetak dan dibaca dalam berbagai bahasa. Alkitab bukan lagi milik rohaniawan karena ia bebas dibaca semua orang.

Budaya Membaca Bangsa kita?
Adakah membaca menjadi budaya bangsa kita? Jawabnya: belum! Dari penelitian tentang kegemaran membaca yang dilakukan terhadap 65 negara, bangsa kita menempati urutan 63. Hampir paling bawah. Artinya, bangsa kita hidup dalam dunia modern, tetapi budaya baca kita masih zaman agriculture. Kita manusia modern tetapi masih hidup dalam tradisi lisan dunia pertanian. Sangat memprihatinkan! Harus ada revolusi mental dan spiritual untuk membuat membaca menjadi bagian hidup kita.

Membaca harus ditanamkan dalam diri anak-anak kita. Belikan anak-anak kita buku, bukan gadget. Bacakan mereka buku, bukan ajak menonton televisi, film atau bermain game di internet. Biasakanlah mendiskusikan isu-isu menarik dari buku-buku yang Anda baca dengan anak-anak anda. Mulailah budaya baca dari keluarga kita, dan bahkan dari diri kita sendiri. Sekarang mulailah membaca! Asyiiikk lho! Dan Anda akan mengubah dunia!

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Sabam Sirait & Spiritualitas Politiknya

Membicarakan sepak terjang Sabam Sirait dalam dunia politik selalu menarik. Apalagi bila dikaitkan dengan bukunya "Politik itu Suci." Konon, gagasan…

Ketaatan Agama Tanpa Logika

Dengan heran saya selalu bertanya: mengapa para teroris tega menabrakkan pesawat berpenumpang ke gedung WTC? Padahal, konon, para teroris yang…

KDRT

Saya pernah dikecam banyak pihak. Penyebabnya gara-gara saya mendukung niat seorang perempuan yang hendak bercerai dari suaminya. Perempuan ini sudah…

MUI adalah Perekat Bangsa!

Pada hari Senin, 22 November 2021, saya mendapat kehormatan menjadi pembicara dalam Refleksi Akhir Tahun 2021 Lintas Agama yang diselenggarakan…