Pandemi: Efeknya Pada Religiositas dan Moralitas?

Beberapa teman berteriak lantang: ”Sekaranglah saatnya agama mundur. Terbuktilah sudah impotensi agama di hadapan multi krisis akibat pandemi Covid-19. Di hadapan krisis ini, agama tidak lagi relevan! Kini, saatnya ilmu pengetahuan, terutama ilmu kedokteran yang berperan. Manusia pasti akan menemukan jawaban terhadap semua persoalan yang dihadapinya.” Mereka menyambung apa yang diteriakkan para tokoh atheis seperti Dawkins, Bennet, Sam Harris, Hitchens, dan sebagainya.

Memang benar, multi krisis akibat pandemi ini menunjukkan besarnya peran ilmu pengetahuan. Dan di hadapan krisis ini, kata mereka, agama mati kutu! Tidak berdaya! Tidak berguna! Benarkah demikian?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya mau bilang bahwa banyak teman terjebak dalam ilusi. Ilmu pengetahuan didapuk sebagai jalan, keselamatan dan hidup. Ilmu pengetahuan menjadi ‘Mesias” atau “Imam Mahdi’ karena dipercaya mampu menjawab segala persoalan di masa kini dan masa depan.

Mereka lupa bahwa ilmu pengetahuan itu ambigu! Meski ilmu pengetahuan telah memberikan kemajuan serta mampu menjawab banyak persoalan manusia, tetapi ia menimbulkan persoalan baru.

Ilmu pengetahuan telah menciptakan banyak krisis kemanusiaan dan krisis ekologi yang menciptakan penderitaan tak terperi. Sesuatu yang ambigu tidak mungkin berfungsi sebagai mesias!

Sekarang kita gumuli pertanyaan di atas tadi. Seorang teman berbisik, “Pandemi ini telah mengubah total cara kita beragama. Orang semakin rasional. Persoalan apa pun bisa dipecahkan. Berarti kemungkinan besar agama akan ditinggalkan.”

Saya setuju! Penghayatan keagamaan mungkin akan berubah. Saya juga setuju, mungkin orang akan semakin rasional. Ilmu pengetahuan akan semakin diandalkan untuk menyelesaikan berbagai krisis.

Tetapi, saya ragu pada tesis bahwa penekanan pada ilmu pengetahuan dan rasionalitas membuat manusia meninggalkan agama! Orang lupa, manusia bukan sekedar makhluk rasional. Manusia lebih kompleks dari itu!

Baca juga  Woooi Iblis, Salut!

Manusia memiliki dimensi ‘luar’ tetapi juga dimensi ‘internal’ dalam dirinya. Bukan hanya mind, tetapi juga heart! Dunia internal manusia ini sesuatu yang unpredictable! Sulit dilacak! Dan ini belum sungguh didalami!

David Hume, Freud muda dan Peter Berger adalah contoh ilmuwan yang sangat yakin bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan rasionalitas adalah dentang lonceng kematian bagi agama. Saat semua persoalan bisa dijawab, agama tidak lagi relevan, begitu tesis mereka!

Hume tetap kokoh pada pendapatnya sampai dia mati. Sebaliknya Freud tua dan Berger merevisi tesisnya. Mereka melihat dua realitas. Pertama, ternyata agama mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Kedua, manusia justru semakin religius di saat krisis.

Lihatlah reaksi bangsa Amerika Serikat, terutama saat 911. Ketika itu para teroris menabrakkan pesawat penumpang ke gedung pencakar langit WTC di Manhattan, New York. Bangsa Amerika panik. Keyakinan bahwa mereka super power dan untouchable langsung ambruk.

Mereka sadar bahwa mereka rapuh. Vulnerable! Lalu, ‘mujizat’ pun terjadi. Pada hari Minggu, umat membanjiri seluruh gereja. Cari Tuhan! Di tengah krisis, religiositas justru meningkat!

Jadi, apakah multi krisis akibat pandemi ini akan membuat orang meninggalkan agama? Rasanya justru tidak! Pew Research Center pernah merilis penelitiannya yang dilakukan di 34 negara di dunia. Hasilnya 62% penduduk dunia menyatakan bahwa Tuhan, agama dan ibadah berperan penting dalam hidup mereka.

Tingkat religiositas diukur dari aktifitasnya mengunjungi rumah ibadah, mengikuti aktifitas keagamaan, berdoa, dan sebagainya. Menariknya, Indonesia berada pada peringkat teratas dalam tingkat religiositas. Semua negara Timur Tengah di bawah Indonesia, kecuali Mesir!

Pew menemukan bahwa semakin tinggi tingkat ekonomi suatu negara semakin berkurang religiositasnya. Sebaliknya, semakin rendah kesejahteraan ekonomi dan pendidikan di suatu negara justru semakin tinggi tingkat religiositas bangsa itu.

Baca juga  Iman & Akal yang Kosong Melompong!

Jadi, faktor krisis memainkan peranan penting dalam tingkat religiositas suatu bangsa. Kemungkinan besar meningginya tingkat religiositas seseorang pada masa krisis karena ia memberikan rasa aman bagi penganutnya.

Nah, di tengah multi krisis efek pandemi ini, saya yakin tingkat religiositas orang kemungkinan besar makin meningkat.

Religiositas dan Moralitas?
Pertanyaan paling penting di sini adalah apakah tingginya tingkat religiositas di Indonesia memberi pengaruh signifikan pada tingginya moralitas bangsa? Jawabnya, seharusnya demikian! Tetapi kenyataannya belum seperti itu.

Kita tahu bahwa meski tingkat religiositas bangsa kita sangat tinggi, tetapi tingkat korupsi dan manipulasi pun sangat tinggi. Artinya, tingkat religiositas atau aktifitas seseorang dalam dunia keagamaan kurang memberi pengaruh dalam soal korupsi.

Penemuan di atas sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gouda dan Park bahwa tingginya tingkat religiositas belum tentu memberi pengaruh signifikan pada moralitas seseorang.

Kesenjangan antara religiositas dan moralitas mengakibatkan belum tentu tingkat religiositas seseorang menjadikannya lebih toleran dan lebih manusiawi terhadap sesama. Inilah penyebab mengapa bisa muncul undang-undang, peraturan dan kebijakan politik yang justru mendiskriminasi kelompok agama tertentu.

Ini juga yang menjadi penyebab mengapa anarkisme dan persekusi kelompok yang satu terhadap kelompok agama lainnya masih terjadi. Artinya, orang yang tingkat religiusnya tinggi belum tentu moralitas dan wawasan kemanusiaannya OK.

Kesimpulannya apa? Begini! Krisis efek pandemi ini tidak membuat orang meninggalkan agama. Sebaliknya, di tengah krisis orang justru semakin mencari agama. Agama masih memainkan peranan penting! Tetapi jangan membuat kita bergembira.

Mengapa? Karena tingginya tingkat religiositas belum tentu diikuti dengan tingginya tingkat moralitas. Padahal yang kita butuh adalah keduanya sama-sama tinggi, baik tingkat religiusitas maupun tingkat moralitas!

Baca juga  Mengapa Presiden Sampai Turun Tangan Soal Gereja di Karimun, Ada Apa?

Oleh karena itu, fokus pemerintah, terutama kementerian agama dan kementerian pendidikan, bukan saja pada menaikkan tingkat religiusitas bangsa, tetapi terutama pada mempertinggi tingkat moralitas bangsa kita. Bukan hanya meninggi pada ritualitas dan pemahaman terhadap doktrin, tetapi terutama meningkatnya akhlak!

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Kisah Kepala Suku Indian

Percakapan dan bahkan perdebatan tentang kawin beda agama dalam laman FB saya sangat ramai. Syukurnya, banyak orang cerdas dan matang…

Era Baru ‘Perdamaian’ Timur Tengah!

Setelah Mesir dan Yordania, Uni Emirat Arab dan Bahrain menjadi dua negara Arab yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Saya…

Holy War alias Perang Suci?

Holy war atau Perang Suci adalah perang atas nama Allah dan agama. Perang Suci yang paling terkenal adalah Perang Salib…

Persembahan Umat: Cinta dan Tanggung Jawab!

Mother Teresa pernah berkata: “Jangan merasa bangga sudah memberikan uang pada orang miskin. Mereka lebih membutuhkan cintamu, bukan uangmu, maka…