Presiden Amerika Serikat Penista Agama!

Setelah Derek Chauvin, perwira polisi Minneapolis, melakukan kekerasan yang menyebabkan kematian George Floyd yang African-American, munculah gerakan rakyat yang menggugat budaya dan sistem politik-ekonomi yang rasis dan tidak adil di Amerika Serikat.

Inilah gerakan rakyat terbesar yang pernah terjadi di Amerika Serikat setelah gerakan protes di Alabama yang dilakukan kaum kulit hitam di bawah pimpinan Martin Luther King Jr. Gerakan rakyat saat itu sangat terkoordinir. Martin Luther King Jr. bisa meyakinkan puluhan ribu pendemo untuk melakukan aksi damai.

Kini berbeda. Gerakan rakyat ini diikuti berbagai unsur masyarakat, baik African-American, kaum kulit putih, dan berbagai etnik lainnya. Berbagai kelompok agama, dan gereja pun terlibat. Tetapi, inilah gerakan tanpa pemimpin. Amerika Serikat memang mengalami krisis kepemimimpinan akut.

Gerakan moral ini tanpa pemimpin. Ia muncul mendadak. Tanpa koordinasi! Akibatnya, gerakan ini mudah terjebak pada anarkisme. Mereka menyuarakan hipokrisi kaum elite yang acap mengagungkan hak azasi manusia dan keadilan, tetapi yang kebijakan ekonomi dan politiknya menciptakan diskriminasi, ketidakadilan dan segregasi. Tetapi bagaimana mengubah Amerika Serikat dan dengan cara apa ia berubah?

Saya khawatir, Amerika Serikat seperti perenang dalam perosotan air yang sedang meluncur ke kolam. Amerika Serikat tak lagi memiliki tokoh kharismatik sekaliber Martin Luther King Jr. Tak ada satu pun tokoh yang bisa menahan keruntuhannya.

Jaman keemasan Amerika Serikat nampaknya sudah berakhir. Kekuatannya memudar. Kebangkrutan terjadi dimana-mana. Pemecatan karyawan makin marak. Ekonominya makin rapuh. Amerika bukan lagi “the promised land”. Penyebab utamanya adalah hipokrisi alias kemunafikan elite politiknya.

Memang, belakangan ini para politisi semakin sering memainkan isu agama untuk membius rakyatnya sendiri. Peristiwa George Floyd menjadi pemantik kesadaran rakyat. Komunikasi elite politik dan rakyat terputus total. Isu agama menjadi basi. Donald Trump pun panik. Ia segera pergi ke gereja. Lagi-lagi ia ingin memainkan isu agama.

Di halaman gereja, Trump secara demonstratif mengangkat Alkitab. Saat itu, rakyat justru disadarkan pada kemunafikannya. Mereka makin marah! Saat Trump ditanya: “Apakah Alkitab itu miliknya?” Trump hanya menjawab: “Ini Alkitab!” Dan kemudian ia ‘nyerocos’ tentang ilusinya pada datangnya kebesaran Amerika Serikat. Semua sudah tidak nyambung! Rakyat makin emosionil. Mereka mau muntah melihatnya! Mereka kehilangan harapan kepada pemimpin politiknya.

Eddie Glaude Jr. seorang Professor asal Princenton mengatakan apa yang diperlihatkan Presiden Trump adalah sebuah drama kediktatoran. Seperti banyak politisi yang sering menggunakan isu agama, Trump adalah politisi penista agama yang sesungguhnya. Ia menyalahgunakan agama dan simbol-simbol suci seperti Kitab Suci dan gedung gereja untuk tujuan kekuasaan dan kenikmatan duniawi.

Trump adalah pemimpin otoriter. Di gereja kecil, tempat suci di dekat White House itu, Trump memutuskan untuk menggunakan kekerasan terhadap rakayatnya sendiri.

 

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Bablas! Negara Urusi Selangkangan Rakyat!

Ada paradoks kehidupan yang sering tidak kita perhitungkan. Paradoks itu adalah ini. Orang ingin menegakkan yang baik, tetapi dengan cara…

Ancaman Terbesar Kita

Ancaman kaum pendukung khilafah memang menakutkan. Tetapi tulisan ini mengungkapkan bahwa ada ancaman terbesar yang harusnya lebih kita waspadai. Apa…

Type Mana Gereja Kita?

Relasi gereja dan politisi yang terjadi belakangan ini mendorong saya untuk mengamati model atau type pimpinan (gereja). Nah, dalam hubungannya…

Mengenang Pdt. Dr. SAE Nababan

Pada 8 Mei 2021, Allah memanggil pulang seorang hambaNya yaitu Pdt. Dr. SAE. Nababan. Kepergiannya adalah kehilangan yang luar biasa…