Rabu Abu & Kemanusiaan Kita

Rabu Abu merupakan hari pertama masa Pra-Paskah. Masa Pra Paskah 40 hari. Dari Rabu Abu sampai puncaknya hari Paskah.

Rabu Abu dirayakan dengan memberi abu pada kening dengan simbol salib. Fungsinya mengingatkan bahwa kita manusia yang rapuh. Saat abu dioles pada kening diucapkan: “Kamu dari abu atau debu akan kembali menjadi debu.” Kalimat itu mengingatkan pada kerapuhan kita. Gunanya agar kita tahu bahwa kita manusia biasa yang harus belajar mengontrol diri. Tanpa kontrol atau penguasaan diri kita akan terjebak menjadi seperti Adam dan Hawa yang berilusi menjadi seperti Allah.

Orang yang tak mampu mengontrol diri dan ingin menjadi seperti Allah dikuasai nafsu mendominasi, menguasai dan melakukan hegemoni terhadap apa pun dan siapa pun demi ego dan kepentingannya.

Hidup tanpa kontrol diri dan ingin menjadi seperti Allah adalah sumber dosa. Efeknya? Perpecahan, konflik, permusuhan, diskriminasi, penindasan, ketidakadilan dan eksploitasi terhadap sesama dan alam raya. Semuanya demi melayani nafsu yang tidak terkontrol.

Nafsu menghancurkan relasi kita dengan Allah, dengan sesama yaitu keluarga, tetangga, sahabat, karyawan dan siapa pun. Nafsu mendorong kita menghancurkan bumi. Nafsu yang tidak terkontrol seperti mobil yang berjalan tanpa rem. Tabrak sana-sini.

Itulah sebabnya pada masa Pra-Paskah, yang diawali Rabu Abu itu, umat diajak untuk menyesali perbuatannya, bertobat dan belajar mengontrol diri. Saat Pra Paskah, umat disarankan menjalani puasa selama 40 hari. Puasa adalah latihan mengontrol diri. Kita menahan diri untuk apa yang kita sukai.

Orang bebas memilih jenis puasanya. Dia sendiri yang paling tahu kontrol diri yang mana yang paling dibutuhkan. Ada yang puasa makan pagi dan siang. Ada yang puasa tidak nonton Dracin atau Drakor. Ada yang puasa atau belajar mengontrol diri tidak memaki orang, dan sebagainya. Latihan pengontrolan diri selama masa puasa diakhiri saat hari Paskah sebagai hari kemenangan.

Allah memenangkan kita. Allah menolong kita untuk menjadi manusia baru yang tidak lagi memuliakan diri sendiri dan tidak lagi hidup dalam nafsu yang tanpa kontrol. Sebaliknya hidup kita memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama dan dunia.

Selamat memasuki masa Pra-Paskah.

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Bablas! Negara Urusi Selangkangan Rakyat!

Ada paradoks kehidupan yang sering tidak kita perhitungkan. Paradoks itu adalah ini. Orang ingin menegakkan yang baik, tetapi dengan cara…

Ancaman Terbesar Kita

Ancaman kaum pendukung khilafah memang menakutkan. Tetapi tulisan ini mengungkapkan bahwa ada ancaman terbesar yang harusnya lebih kita waspadai. Apa…

Type Mana Gereja Kita?

Relasi gereja dan politisi yang terjadi belakangan ini mendorong saya untuk mengamati model atau type pimpinan (gereja). Nah, dalam hubungannya…

Mengenang Pdt. Dr. SAE Nababan

Pada 8 Mei 2021, Allah memanggil pulang seorang hambaNya yaitu Pdt. Dr. SAE. Nababan. Kepergiannya adalah kehilangan yang luar biasa…