Shoah & Ruakh

Orang Yahudi menolak penyebutan ‘holocaust’ dalam peristiwa pembantaian 6 juta Yahudi oleh Nazi Jerman. Mengapa? Istilah Holocaust dari kata Yunani; hol√≥kauston, artinya binatang kurban(olos) yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan cara dibakar (kaustos). Nah, para korban Nazi bukanlah binatang korban. Mereka adalah manusia, korban kebiadaban rejim Nazi.

Sebagai pengganti ‘Holocaust’, orang Yahudi menamakan peristiwa pembantaian itu ‘Shoah’, artinya bencana. Tetapi, Shoah memiliki makna lain. Apa?

Shoah adalah momen yang berlawanan dengan Ruakh. Ruakh itu momen kehadiran Allah, the presence of God. Sebaliknya, Shoah adalah momen ketidakhadiran Allah, the absence of God. Allah seolah diam saja saat manusia gagal mengatasi persoalannya, lalu menjerit ketakutan tanpa pengharapan.

Shoah adalah momen genting. Itulah momen manusia merasa ditinggal sendirian. Inilah momen manusia dipaksa mengalami kerapuhannya. Tak seorang pun menolongnya. Allah pun tidak! Manusia berhadapan dengan dirinya sendiri! Itulah momen yang dihadapi Yesus di tiang kayu salib:’ Ya Bapa mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Itulah momen Shoah!

Dalam momen genting itu, manusia harus memilih: mengalaminya dalam spirit keputusasaan atau menerima kerapuhannya sebagai bagian dari kehidupan, lalu belajar melepaskan total segalanya pada Sang Bapa:” Ya Bapa ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dalam proses penyerahan total itu Yesus menunjukkan sumber kekuatan. Apa pun termasuk hidup itu punya Allah. Allah bisa memberinya, tetapi Allah juga mengambilnya. Bebas!

Bagi sebagian orang, pandemi Covid-19 adalah momen Shoah. Allah seolah diam, bahkan mati! Allah tidak hadir! Itulah momen paling menakutkan. Bagi masyarakat NTT, bencana alam yang menghancurkan tanah, sawah dan merenggut ratusan nyawa adalah momen Shoah, Allah diam. Absen! Manusia pun sendirian! Berhadapan dengan dirinya sendiri.

Sekali lagi, inilah momen genting, saat orang dipaksa bergumul dengan pilihan: menjalani hidup dalam ketidakberdayaan dan keputusasaan atau menerima kenyataan kerapuhannya, lalu melepaskan segalanya pada Sang Bapa yang seolah diam.

Pada momen melepaskan itu orang justru menemukan kekuatannya. Ya, melepaskan apa pun yang kita klaim sebagai milik kita adalah bukti kekuatan. Sebaliknya, mengklaim apa yang bukan milik kita adalah tanda kekerdilan jiwa. Dan bukankah dunia ini dikuasai oleh manusia-manusia berjiwa kerdil? Bukankah kebijakan sosial-politik dan ekonomi bangsa kita juga dipengaruhi kaum oligarki dan birokrat berjiwa kerdil?

Momen genting itu adalah momen disorientasi. Momen transisi kehidupan. Momen akil balik: pelepasan kekerdilan jiwa yang apatis dan egoistik. Inilah momen menjadi manusia matang yang kreatif, empatik dan altruistik. Pada momen genting ini kita tahu betapa solidaritas dan persaudaraan harus diperkuat!

Momen genting ini menjadi momen kemenangan saat kita mampu mengatakan: “Bukan aku, tetapi Engkau!”

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

PPKM, Krisis & Marahnya Risma!

Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Jawa dan Bali hingga 2 Agustus 2021 mendatang.…

Mana yang Bermasalah: Manusia atau Agama?

Sindhunata, dalam pengantarnya pada buku Charless Kimball, Kala Agama Jadi Bencana (2002), mengatakan satu hal menarik. Ia katakan bahwa berbicara…

Agama: Bukan Apa, Tetapi Bagaimana!

Agama itu fenomena menarik sekaligus menyebalkan. Bisa mendorong lahirnya peradaban baru. Bisa juga membuat orang terpenjara dalam peradaban kuno. Bisa…

Intelektual: Tradisional & Organik?

Saat PIKI menyelenggarakan kongresnya, saya teringat pada pemikiran Gramsci tentang kaum intelektual. Dia menyingkap adanya persoalan besar yang dialami oleh…