Sumpah Pemuda: Diimplementasikan atau Dicampakkan?

Sumpah Pemuda bukan sekedar sejarah masa lalu. Sumpah Pemuda, mengutip Fackenheim, adalah event pembuat sejarah. Tanpa Sumpah Pemuda, tidak akan ada sejarah Indonesia.

Melalui Sumpah Pemuda, bangsa kita memulai dan menggores sejarahnya. Waktulah yang akan menilai sejarah macam apa yang sedang kita ciptakan. Apakah sejarah yang sesuai dengan spirit Sumpah Pemuda atau justru sejarah yang bertentangan dengan semangat Sumpah Pemuda.

Para pemuda dan pemudi penggagas event Sumpah Pemuda itu adalah manusia yang luar biasa. Mereka adalah manusia merdeka. Mereka merdeka dari egoisme dan selfishness. Kepentingan diri sendiri dicampakkan ke keranjang sampah. Mereka juga sudah dimerdekakan dari ikatan primordialisme etnik dan sektarianisme keagamaan yang sempit.

Para pemuda dan pemudi penggagas event Sumpah Pemuda adalah kaum pembaharu yang mampu menembus batas-batas imajiner yang yang selama ini memenjarakan mereka. Batas etnik, batas ideologi menjadi garis usang. Batas agama menjadi seperti baju yang sangat sempit. Mereka bersepakat untuk menyatakan tekad memerdekakan bangsa dari segala bentuk kolonialisme dan penjajahan.

Para penggagas Sumpah Pemuda adalah kaum muda yang mampu mentransenden dan mentransformasi dirinya. Dari perjuangan atas dasar suku bangsa menjadi perjuangan demi nasionalisme; dari kepentingan kelompok agama menjadi kepentingan bangsa.

Perjuangan mereka yang pertama dan terutama adalah perjuangan demi meraih kemerdekaan. Ya, Sumpah Pemuda adalah perjuangan demi kemerdekaan bangsa! Merdeka dari cengkraman penindasan, ketidakadilan yang dilakukan kaum penjajah.

Sumpah Pemuda tidak sia-sia! Persatuan bangsa berhasil dijalin. Dan yang terutama, pada akhirnya kemerdekaan bangsa bisa dideklarasikan pada 17 Agustus 1945. Kita sudah merdeka dari belenggu dominasi dan hegemoni kaum penjajah asing. Ini yang kita harus syukuri!

Ironisnya, saat kita seharusnya menikmati aroma kemerdekaan bangsa, sebagian anak bangsa masih mewarisi tradisi ikatan primordialisme dan sekrtarianisme yang sempit.

Lebih parah dari fenomena di atas, sebagian kecil anak bangsa justru memanfaatkan kesempatan untuk mengumbar egoisme dan selfishnessnya. Mereka adalah kaum elite oligarki yang mengambil alih dominasi kaum kolonialis. Mereka melakukan hegemoni di hampir semua aspek kehidupan, terutama aspek politik dan ekonomi.

Rakyat banyak pun dikorbankan. Kesenjangan ekonomi makin melebar. Spirit Sumpah Pemuda pun dicampakkan ke keranjang sampah. Sumpah Pemuda meniadi torso, tubuh tanpa jiwa. Ia menjadi upacara ritual tanpa spirit kemerdekaan.

Kaum oligarki ini mendominasi dan mengatur segalanya. Bahkan Tuhan pun hendak diaturnya. Mereka adalah elite super-rich yang di depan rakyat berbicara atas nama dan demi rakyat. Padahal sesungguhnya mereka adalah benalu yang menghisap kekayaan bangsa, lalu menyimpannya di tempat aman di luar negeri. Mereka adalah kaum hypocrite!

Seharusnya event Sumpah Pemuda menciptakan cerita-cerita baru tentang kemerdekaan rakyat dari dominasi dan hegemoni apa pun. Sumpah Pemuda adalah gerakan pembebasan! Oleh karena itu, Sumpah Pemuda seharusnya lebih dihayati oleh para elite oligarkis yang sekarang sedang mendominasi dan melakukan hegemoni politik dan ekonomi.

Spirit Sumpah Pemuda tidak akan pernah padam. Suatu saat spirit ini akan menuntut dan meminta pertanggungjawaban kita semua, terutama meminta pertanggungjawaban para aktor hegemonik itu.

Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2021!

Salam,
Albertus Patty

Bagikan

ARTIKEL TERKAIT

Sabam Sirait & Spiritualitas Politiknya

Membicarakan sepak terjang Sabam Sirait dalam dunia politik selalu menarik. Apalagi bila dikaitkan dengan bukunya "Politik itu Suci." Konon, gagasan…

Ketaatan Agama Tanpa Logika

Dengan heran saya selalu bertanya: mengapa para teroris tega menabrakkan pesawat berpenumpang ke gedung WTC? Padahal, konon, para teroris yang…

KDRT

Saya pernah dikecam banyak pihak. Penyebabnya gara-gara saya mendukung niat seorang perempuan yang hendak bercerai dari suaminya. Perempuan ini sudah…

MUI adalah Perekat Bangsa!

Pada hari Senin, 22 November 2021, saya mendapat kehormatan menjadi pembicara dalam Refleksi Akhir Tahun 2021 Lintas Agama yang diselenggarakan…